CSIS: Lockdown Jakarta Setahun Turunkan Pertumbuhan 1 Persen

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menanggapi isu rencana lockdown untuk menekan penyebaran virus Corona atau Covid-19. Dalam skenario terburuk, salah satu desakan yang kini mengemuka adalah pemerintah harus menutup beberapa titik wilayah yang jumlah pasiennya cukup banyak, salah satunya DKI Jakarta. 

    Dalam hitungannya, pertumbuhan ekonomi nasional bisa turun hingga 0,5 persen jika skenario lockdown dijalankan selama dua minggu. Perekonomian bisa lebih lesu jika lockdown diberlakukan selama satu tahun penuh karena pertumbuhan ekonomi bisa jeblok hingga 1 persen. 

    Yose menyebutkan lockdown Jakarta akan memberikan dampak ekonomi yang besar mengingat langkah ini juga pasti akan diikuti dengan berhentinya aktivitas pekerjaan. "Kegiatan ekonomi di Jakarta berkontribusi sebesar 25 persen terhadap PDB dan menentukan lebih dari 60 persen dari perekonomian nasional," katanya dalam publikasinya yang berjudul 'Tepatkah Lockdown dalam Menghadapi Covid-19?' , Selasa, 17 Maret 2020.

    Jika diasumsikan bahwa sekitar 50 persen dari kegiatan ekonomi Jakarta berhenti akibat lockdown, maka 30 persen dari aktivitas pekerja secara nasional akan terhenti. Akibatnya, kontribusi penurunan PDB bisa mencapai 12 persen.

    Oleh karena itu, Yose menilai langkah alternatif yang paling diperlukan saat ini adalah mempersiapkan fasilitas kesehatan yang ada untuk menanggulangi kasus berat. Apabila ada 10 ribu kasus positif virus Corona, maka harus ada 1.500 tempat yang disiapkan oleh rumah sakit dan hal ini berat untuk dipenuhi oleh Jakarta sendiri. Lockdown akan membuat mitigasi ketersediaan tempat menjadi sulit diatasi.

    Tak hanya itu, Yose menyebut alternatif social distancing juga dapat dilakukan, tapi ini perlu berangkat dari inisiatif pribadi maupun kelompok untuk melakukan hal tersebut. "Jangan sampai tindakan lockdown diambil karena pemerintah tidak tahu atau tidak mau repot melakukan tindakan yang lainnya," katanya.

    Sejauh ini, opsi karantina wilayah atau lockdown secara terbatas menjadi salah satu rekomendasi untuk dilakukan di Jakarta dan Jawa Barat karena menjadi salah satu pusat persebaran virus corona atau Covid-19. Rekomendasi tersebut tertuang dalam surat Sekretariat Kabinet Republik Indonesia dengan judul Rekomendasi Strategi Penanganan Covid-19 di Indonesia yang dilakukan pada Senin, 16 Maret 2020.

    Rekomendasi pembatasan sosial berupa lockdown dengan modifikasi atau aturan yang diperjelas dan tegas di daerah prioritas, seperti DKI Jakarta. “Saat ini para ahli sepakat bahwa pembatasan sosial berupa lockdown dengan modifikasi atau aturan yang diperjelas, dapat memperlambat penyebaran dan menurunkan kematian akibat Covid-19,” demikian tulis surat rekomendasi tersebut.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.