Soal Corona, SBY: Jangan Too Little Too Late, Selamatkan Ekonomi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo di Ruang Garuda, Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 10 Oktober 2019. Pertemuan dilakukan di tengah isu Demokrat menyatakan siap mendukung pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Meskipun, PDIP telah mengutarakan sinyal penolakan ada parpol di luar koalisi Jokowi-Ma'ruf yang gabung usai Pilpres 2019. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mengatakan pandemi virus corona Covid-19 telah menimbukan gejolak ekonomi global. Oleh karena itu, pemerintah perlu menetapkan kebijakan responsif dengan tindakan yang sigap dan tepat.

    "Melalui artikel ini saya hanya ingin mengingatkan agar Indonesia tidak terlambat menjalankan 'policy response' dan aksi-aksi nyata yang diperlukan. Jangan 'too little and too late'. Selamatkan ekonomi kita, selamatkan rakyat," kata SBY melalui catatannya dalam akun Facebook resminya, Selasa, 17 Maret 2020.

    SBY merincikan gejolak perekonomian global akibat pandemi corona saat ini terbilang serius. Hal itu, jelasnya, terungkap dalam dinamika dan perkembangan ekonomi dunia dan Indonesia dalam sebulan ini dan terutama seminggu terakhir.

    Pada periode itu, kata SBY, rontoknya harga-harga saham, minyak dan nilai tukar, serta berbagi pukulan lain menggoyahkan pilar dan fundamental perekonomian banyak negara. Tak terkecuali Indonesia.

    "Saya jadi teringat krisis ekonomi global tahun 1998 dan tahun 2008. Tahun 1998 ekonomi Indonesia tidak selamat, sementara tahun 2008 kita selamat. Dalam arti, kita dapat meminimalkan dampak krisis ekonomi global tahun 2008."

    SBY mengatakan banyak pakar ekonomi, pemimpin dunia usaha dan bahkan elemen pemerintah di banyak negara yang khawatir gejolak ini bisa membuat dunia jatuh ke dalam resesi yang dalam dan panjang. Bahkan, jelasnya, ada yang mencemaskan kalau krisis ini jauh lebih berat dibandingkan krisis 1998 dan 2008.

    Apalagi, sebutnya, bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, telah menjalankan kebijakan moneter dan tindakan berskala besar, antara lain mengalirkan dana US$700 miliar dan sejumlah tindakan moneter (bagian dari Quantative Easing).

    "Yang mengerti ekonomi, kalau The Fed sudah ;menembakkan peluru kendali' seperti ini, berarti situasi sudah serius. Berbagai bank sentral di seluruh dunia juga melakukan langkah-langkah yang serupa. Bahkan para pemimpin G7 telah meminta agar IMF dan Bank Dunia membantu negara-negara yang memerlukan."

    SBY mengatakan kondisi ini mengingatkannya pada apa yang terjadi pada 2008 dan tahun-tahun setelah itu. Kala itu, jelas dia, Indonesia menghadapi krisis berskala besar dengan jalan yang tak selalu mudah.

    Menurutnya, berbagai policy response yang dilakukan secara kolektif oleh dunia, baik moneter maupun fiskal, pun tak serta merta menenangkan dan 'menjinakkan' pasar. 

    "Ternyata tak segampang itu. Untuk meredakan badai ekonomi diperlukan penanganan bersama yang serius dan terus-menerus. Tentu termasuk kebijakan dan tindakan yang dilakukan secara nasional, di masing-masing negara."

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.