Beberapa Faktor Penyebab IHSG Menguat Setelah Sempat Trading Halt

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona hijau pada akhir perdagangan, Jumat, 13 Maret 2020, setelah sempat mengalami trading halt pada awal perdagangan dinilai turut dipacu sentimen pasar usai pemerintah mengumumkan stimulus jilid kedua dalam menghadapi virus corona Covid-19.

    "Banyak faktor yang menyebabkan penguatan IHSG. Di satu sisi pasar merespons positif kebijakan pemerintah, sementara di sisi lain ada faktor teknikal, harga saham beberapa emiten blue chips sudah terlihat sangat murah," kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah ketika dihubungi Bisnis, Jumat. 

    Pada Jumat, IHSG ditutup pada level 4907,571 atau menguat 0,24 persen dibandingkan dengan perdagangan sehari sebelumnya.

    Selain itu, dia pun menilai aksi buyback yang dilakukan oleh sejumlah emiten pun turut mempengaruhi pergerakan IHSG. Kondisi ini disebutnya mendorong investor untuk mengikuti aksi pembelian saham.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan stimulus dikucurkan karena virus corona Covid-19 telah menjadi pandemi global, sesuai dengan keputusan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). 

    Dia menerangkan pemerintah akan fokus pada ketersediaan stok pangan, kemudian sektor pariwisata dan transportasi. Penurunan harga minyak akibat perang harga antara Arab Saudi dan Rusia juga jadi turut perhatian.

    Di antara stimulus yang diberikan kali ini terkait fiskal pelonggaran PPh pasal 21 ditanggung pemerintah diberikan 6 bulan. Pelonggaran juga diberikan untuk PPh pasal 22 impor yang berlaku 19 sektor pengolahan dan potongan PPh pasal 25 sebesar 30 persen.

    Pelonggaran restitusi PPh diberikan tanpa audit dan tanpa plafon untuk industri orientasi ekspor, berlaku enam bulan.

    Pieter menyebutkan kebijakan pemerintah ini telah tepat. Penundaan pembayaran pajak pegawai dan perusahaan serta kemudahan proses impor demi menjamin bahan baku dinilainya bermanfaat untuk meredam perlambatan ekonomi akibat gejolak global.

    "Penundaan atau pembebasan pajak akan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga bisa mendorong konsumsi rumah tangga. Sementara kemudahan impor akan mendorong produksi sehingga bisa menjaga suplai barang sekaligus mengendalikan inflasi," katanya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.