Pengamat: Buyback Saham BUMN Tak Kuat Angkat IHSG

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    Jurnalis melakukan sesi wawancara di dekat refleksi layar pergerakan IHSG, Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Pasca libur Lebaran, perdagangan IHSG dibuka menguat 90,91 poin atau 1,4 persen ke 6.300,036, sementara pada sore harinya IHSG diutup di level 6.289,61. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai dua amunisi terbaru Menteri BUMN Erick Thohir belum cukup kuat untuk menstabilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dua amunisi itu adalah buyback Rp 8 triliun saham BUMN dan menggalang dana PT Taspen (Persero) untuk membeli saham undervalue.

    “Jika aksi jual sangat masif, angka Rp 8 triliun hanya dapat mengimbangi aksi jual beberapa hari saja, maksimal seminggu,” kata Budi saat dihubungi di Jakarta, Kamis, 12 Maret 2020. Dalam kondisi normal saja, transaksi harian di pasar modal bisa sebesar angka buyback tersebut.

    Namun Budi tetap berharap kebijakan ini bisa efektif untuk meredam gejolak saat transaksi harian tidak besar. Sebab Bursa Efek Indonesia (BEI) juga sudah menerbitkan kebijakan auto rejection dan larangan short sale.

    Sejak Senin, 9 Maret 2020, IHSG tercatat anjlok hingga lebih dari 6 persen karena dipicu sentimen negatif global yakni wabah virus corona. IHSG ditutup melemah 361,73 poin atau 6,58 persen ke posisi 5.136,81. Sementara pada penutupan perdagangan sore kemarin, IHSG ditutup kembali ditutup melemah 1,28 persen ke posisi 5.154,1.

    Lalu dua hari berturut-turut, Kementerian BUMN mengumumkan dua amunisi baru tersebut 12 BUMN yang sudah melantai di bursa diminta melakukan buyback. Lalu, Taspen dan dana pensiun lain juga akan dikerahkan membeli saham undervalue. Tujuannya keduanya sama, menstabilkan pergerakan IHSG.

    Namun, Budi menilai pembelian saham undervalue oleh Taspen juga hanya bisa menahan kejatuhan harga saham 2 sampai 3 persen saja. Untuk itu, efeknya terbilang kecil. Prediksi dari Budi ini tak jauh berbeda dari analisis Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee.

    Hans menilai efek dari kedua amunisi Erick Thohir ini tetap bergantung pada faktor global. Wabah virus corona yang kini menyerang IHSG, diprediksi akan berlangsung selama enam bulan. Sehingga, analis memprediksi pasar saham membaik baru pada Agustus mendatang. “Jadi sudah bisa rebound di Kuartal 4,” kata Hans.

    Terakhir, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta yang menyarankan agar pemerintah menunggu wabah corona mereda. “Baru aksi buyback saham BUMN akan terasa sangat efektif,” kata dia.

    Tempo juga telah mengkonfirmasi kepada Erick seberapa besar strateginya ini akan berpengaruh pada IHSG. Erick mengatakan pihaknya hanya mencoba mengurangi dampak negatif yang ada. “Kami hanya minimize, gak bisa juga semua yang kami lakukan berarti nol.” kata dia, Rabu, 11 Maret 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemprov DKI Putuskan Kalender Pendidikan Mulai 13 Juli 2020

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan kalender pendidikan 2020/2021 dimulai 13 Juli 2020 dan selesai di Juni 2021. Pada Juli 2021, masuk kalender berikutnya.