Antisipasi Corona, Balikpapan Tolak Kapal Pesiar Asal Australia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal cepat melintas dekat kapal pesiar MS Viking Sun saat lego jangkar sebelum masuk ke Pelabuhan Benoa di lepas pantai Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali, 7 Maret 2020. Kapal pesiar yang ditolak menurunkan penumpang di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang dan bersandar di Tanjung Perak, Surabaya untuk mencegah wabah Covid-19 karena adanya indikasi dua penumpang terpapar virus Corona itu sedang dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan sebelum diijinkan untuk sandar dan menurunkan penumpang di Bali. TEMPO/Johannes P. Christo

    Kapal cepat melintas dekat kapal pesiar MS Viking Sun saat lego jangkar sebelum masuk ke Pelabuhan Benoa di lepas pantai Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali, 7 Maret 2020. Kapal pesiar yang ditolak menurunkan penumpang di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang dan bersandar di Tanjung Perak, Surabaya untuk mencegah wabah Covid-19 karena adanya indikasi dua penumpang terpapar virus Corona itu sedang dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan sebelum diijinkan untuk sandar dan menurunkan penumpang di Bali. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kota Balikpapan mengeluarkan keputusan untuk menolak kedatangan kapal pesiar asal Australia, Coral Adventure. Surat edaran telah dikirim ke PT Pelindo IV (Persero) cabang Balikpapan dan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP Balikpapan.

    Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengatakan bahwa Coral Adventure yang mengangkut total 78 kru dan penumpang itu tidak diizinkan merapat di pelabuhan wilayahnya, yaitu Semayang.

    “Kita sudah keluarkan surat ke KSOP untuk ditindaklanjuti dan tidak izinkan bersandar,” katanya di Balikpapan, Kamis 12 Maret 2020.

    Rizal menjelaskan bahwa pemerintah tidak ingin kecolongan warganya  terkena wabah Covid-19 atau virus Corona. Berdasarkan informasi yang dia dapat, Coral Adventure akan datang ke Kota Minyak pada 15 Maret mendatang.

    “Karena mereka ingin bersandar, turun untuk ke Samboja melihat Orang Utan lalu Samarinda mendatangi beberapa objek dan Tenggarong,” jelasnya. 

    Sebelumnya KSOP Balikpapan telah menetapkan zona karantina. Batas kapal masuk dan harus melalui pemeriksaan berjarak sekitar 10 mil dari pelabuhan.

    Kepala Bidang Keselamatan Berlayar dan Patroli KSOP Balikpapan, Capt Hasan Basri mengatakan bahwa prosedur tetap tata cara memasuki pelabuhan sesuai dengan surat keputusan yang diterbitkan 27 Februari lalu. Para kru kapal akan dikarantina untuk dipastikan apakah bebas Corona atau tidak.

    “Setelah clear semua, mereka turun. Pandu memasukkan kapal ke pelabuhan dan menyandarkan,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pedoman WHO Versus Kondisi di Indonesia untuk Syarat New Normal

    Pemerintah Indonesia dianggap belum memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan WHO dalam menjalankan new normal.