Meski Terpukul Corona, Target Ekspor Non-migas Tak Dipangkas

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. APBN diharapkan bisa menjadi pendongkrak bagi pertumbuhan ekonomi. Maka program priortas yang masuk dalam pendanaan APBN harus digenjot realisasinya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan tak akan merevisi target ekspor non-migas 2020 ,kendati perekonomian global tengah digoyang virus corona atau Covid-19. Sekretaris Jenderal Kemendag Oke Nurwan mengatakan, wabah corona bukan halangan bagi pemerintah untuk menggenjot pencapaian di sektor perdagangan.

    "Kita enggak pernah tahu batas waktu virus itu sampai kapan. Katakanlah sepanjang masa, jadi kita harus meyakini bahwa ini bukan halangan," ujar Oke di Jakarta Pusat, Rabu, 11 Maret 2020.

    Oke mengatakan, target ekspor tahun ini masih sesuai dengan yang telah ditetapkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas sebelumnya. Hingga akhir 2020, target ekspor non-migas dipatok tumbuh 5,2 persen. Sedangkan target hingga 2024 diperkirakan tumbuh sebesar 9,8 persen.

    Adapun untuk mendorong kinerja ekspor di tengah isu global, Oke mengatakan pemerintah telah memiliki skema tertentu. Salah satunya dengan menerbitkan paket stimulus jilid 2 yang akan memberikan kelonggaran terhadap aksi perdagangan luar negeri.

    "Kami akan menerapkan online SKA (surat keterangan asal). Jadi pengajuan (usaha) cukup via online, tidak perlu datang. Fasilitas sudah ada, sistem sudah siap, kalau stimulus turun, kami luncurkan," tuturnya.

    Paket stimulus corona tahap II sendiri disusun sebagai upaya mengatasi kelesuan pertumbuhan ekonomi karena wabah global ini. Pemerintah merancang sejumlah skema, di antaranya kemudahan ekspor. Kemudian, impor bahan baku bakal dilonggarkan dengan syarat importir yang memperoleh kemudahan memiliki reputai baik.

    Pemerintah juga akan memberikan stimulus berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh 21 dan PPh 22) untuk impor bahan baku selama enam bulan. Rencananya, stimulus ini akan dikucurkan mulai April nanti.

    Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey sebelumnya memprediksi isu global yang terjadi belakangan akan menggerus ekspor non-migas Tanah Air. Menurut dia, setidaknya ada tiga komoditas ekspor utama yang terancam, yakni kelapa sawit, karet, dan batu bara. "Kita harus mulai memikirkan untuk mensubtitusi barang-barang ekspor tersebut," ujar Roy. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Permohonan Pengembalian Biaya Perjalanan Ibadah Haji 2020

    Pemerintah membatalkan perjalanan jamaah haji 2020. Ada mekanisme untuk mengajukan pengembalian setoran pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji.