Ada Virus Corona, Pengusaha Jamin Stok Obat Aman Hingga April

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paket alat mandi dan obat-obat yang merupakan fasilitas karantina untuk pasien terinfeksi virus corona di Singapura, 28 Februari 2020.  REUTERS/Feline Lim

    Paket alat mandi dan obat-obat yang merupakan fasilitas karantina untuk pasien terinfeksi virus corona di Singapura, 28 Februari 2020. REUTERS/Feline Lim

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Perdagangan dan Industri Bahan Baku Farmasi GP Farmasi, Vincent Harijanto mengatakan stok obat-obatan di dalam negeri masih tetap tersedia hingga April 2020. Karena itu, dia berharap masyarakat tidak perlu khawatir di tengah sentimen wabah virus Corona atau Covid 19.

    "Stok obat sebenarnya saat ini masih bisa sampai Maret dan April. Untuk slow moving item bahkan bisa bertahan sampai Juni dan Juli," kata Vincent di Hotel Millennium, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020.

    Dia menuturkan stok bahan baku obat di Indonesia 95 persen masih sangat bergantung pada impor. Di mana, kata dia, sumber impor bahan baku obat terbesar dari Cina dan India, atau sekitar 85 persen dari keseluruhan bahan baku obat.

    Dari dua negara itu, kata dia, porsi impor terbesar, yaitu Cina sekitar 60 dan India 40. Menurutnya, dulu Indonesia masih banyak impor dari Eropa. Namun, saat ini impor bahan baku obat dari Eropa tersisa sekitar 10 hingga 15 persen.

    Vincent mengatakan gangguan suplai obat-obatan dari Cina sebenarnya rutin terjadi, khususnya tiap hari raya Imlek. Dari kasus itu, dia yakin pengusaha obat telah belajar untuk mengantisipasi.

    "Kebetulan datanglah Virus Corona. Terpaksa musti berhenti lagi, baik yang masuk maupun produksi di pabrik," ujar dia.

    Meski pasokan masih terhambat, kata dia, pengusaha saat ini masih optimistis. Hal itu ditambah informasi bahwa pekerja di Cina sudah mulai masuk ke kantor dan memulai produksi lagi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).