Gubernur BI: Investor Asing Belum Hengkang Beneran dari Indonesia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) dan Wakil Direktur Utama BNI Anggoro Eko Cahyo (kanan) melakukan uji coba QRIS Customer Presented Mode atau CPM di Denpasar, Bali, Sabtu (29 Februari 2020). Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) telah menyiapka  Strategi dalam mendukung Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025. ASPI juga menyelesaikan penyusunan standar QRIS yang relatif lebih baik dari standar regional sejenis.

    Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kiri) dan Wakil Direktur Utama BNI Anggoro Eko Cahyo (kanan) melakukan uji coba QRIS Customer Presented Mode atau CPM di Denpasar, Bali, Sabtu (29 Februari 2020). Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) telah menyiapka Strategi dalam mendukung Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025. ASPI juga menyelesaikan penyusunan standar QRIS yang relatif lebih baik dari standar regional sejenis.

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan investor global masih menyimpan dana di Indonesia. Meski demikian Gubernur BI mengakui sentimen wabah corona telah memicu penjualan Surat Berharga Negara dan saham milik investor asing.

    "Mereka belum hengkang beneran, sementara. Mereka jual saham, SBN (Surat Berharga Negara), namun simpen dalam rupiah, dan untuk lihat waktu," kata Perry di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2020.

    Menurut dia, investor asing tidak bisa mengkalkulasikan risiko dari dampak wabah virus Corona. Sehingga investor masih menyimpan asetnya di Indonesia. Perry menuturkan, dana investor asing itu masih tercatat di rekening kustodian dalam negeri.

    "Jadi ya sudah sementara keluar dulu dari Indonesia, jual SBN, saham, tapi pemantauan kami uangnya investor masih di Indonesia," ujar dia.

    Dia mengatakan sentimen Corona berdampak pada sektor finansial. Indikasinya, investor memindahkan investasinya dari aset ke cash dan atau emas.

    Saat ini, tutur Perry, investor terus memantau kondisi ekonomi dengan mencermati langkah-langkah yang ditempuh pemerintah di masing-masing negara.

    Dia juga menuturkan indeks volatilitas dari Chicago Bond of Exchange(CBOE) yang mengukur premi risiko di pasar keuangan. Perry menyatakan risiko di sana sebelum Corona sebesar 32 basis poin, naik menjadi 54 basis poin saat ini.

    "Indonesia, CDS (credit default swap atau swap rate premi risiko untuk para investor global) spread sebelum corona the lowest in history 59, kemudian setelah Corona virus dari 1 Februari terus naik, sekarang 175 naik terus," kata Perry.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.