Ekspor Non-migas RI Diprediksi Akan Terpuruk karena Minyak Dunia

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo didampingi Seskab Pramono Anung (kedua kanan) menerima pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Istana Merdeka Jakarta, Kamis 13 Juni 2019. Presiden meminta masukan dari Apindo terkait pemerintahan ke depan, salah satunya tentang upaya peningkatan nilai ekspor. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    Presiden Joko Widodo didampingi Seskab Pramono Anung (kedua kanan) menerima pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Istana Merdeka Jakarta, Kamis 13 Juni 2019. Presiden meminta masukan dari Apindo terkait pemerintahan ke depan, salah satunya tentang upaya peningkatan nilai ekspor. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan anjloknya harga minyak dunia akan turut menggerus ekspor non-migas Tanah Air. Menurut dia, setidaknya ada tiga komoditas ekspor utama yang terancam, yakni kelapa sawit, karet, dan batu bara.

    "Kita harus mulai memikirkan untuk mensubtitusi barang-barang ekspor tersebut," ujar Roy Mandey dalam Dialog Nasional 2020 di Jakarta Pusat, Rabu, 11 Maret 2020.

    Roy mengatakan, saat ini, Indonesia memiliki potensi untuk mengekspor produk lain yang dihasilkan oleh usaha mikro kecil dan menengah atau UMKM dan koperasi-koperasi daerah. Produk yang dimaksud berupa kerajinan tangan, makanan tradisional, dan minuman tradisional.

    Namun, ia menyatakan perlu langkah yang tepat dan panjang untuk menjual produk UMKM dan koperasi ke negara-negara tujuan ekspor. Sebagai langkah awal, pemerintah perlu memiliki road map atau peta perdagangan ekspor khusus produk-produk kelompok kecil masyarakat.

    "Tentu yang dipikirkan adalah sistem logistik global. Bagaimana kita mengirim barang-barang itu hingga sampai ke negara tujuan ekspor," ujarnya.

    Setelah itu, pemerintah perlu memikirkan siapa saja distributor di negara tujuan. Di sisi lain, pemerintah juga perlu memetakan negara mana saja yang cocok dengan pangsa pasar produk UMKM Indonesia.

    Sebagai langkah lanjutan, pemerintah dinilai perlu melakukan uji coba terhadap produk barang yang akan diekspor. "Apakah memang diminati konsumen atau tidak. Lalu, harganya sesuai atau tidak. Seumpama berhasil, ia yakin produk UMKM akan menggantikan ekspor non-migas.

    Menanggapi hal itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, pada Januari hingga Februari 2020, kinerja ekspor dan impor Indonesia belum terlampau terdampak kondisi global. "Namun kita masih menunggu kinerja ekspor di bulan mendatang," tuturnya di tempat yang sama.

    Harg minyak dunia dilaporkan jeblok lebih dari 25 persen pada sesi perdagangan Asia, Senin pagi ini, 9 Maret 2020, seiring dengan aksi jual yang melanda akibat perseteruan antara Arab Saudi dan Rusia. Data Bloomberg memperlihatkan pada pukul 10:06 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April 2020 anjlok 26,5 persen atau 10,94 poin menjadi US$ 30,34 per barel. Sepanjang tahun berjalan, harga meluncur 50,31 persen.

    Adapun, harga minyak Brent kontrak Mei 2020 merosot tajam 25,47 persen menuju US$ 33,74 per barel. Harga anjlok 48,88 persen sepanjang 2020.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.