Harga Minyak Anjlok, Sri Mulyani: Beban Impor Pertamina Turun

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama (kiri) dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan konferensi pers seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa 11 Februari 2020. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama (kiri) dan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan konferensi pers seusai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa 11 Februari 2020. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan turunnya harga minyak dunia bisa menekan beban impor minyak Indonesia. "Selama ini impor minyak kita besar, maka penurunan harga minyak ini bisa menjadi penurunan beban Pertamina untuk impor," katanya, Senin, 9 Maret 2020.

    Namun sampai berapa lama tren penurunan maupun bagaimana dampak jebloknya harga minyak mentah ke level US$ 30-an per barel saat ini, menurut Sri Mulyani, harus dikaji lebih jauh. "Apakah ini jangka pendek atau panjang, itu masih akan dilihat."

    Sri Mulyani menjelaskan, dari sisi global, penurunan harga minyak bisa jadi adalah stimulus bagi dunia usaha. Sebab, perekonomian global yang tengah tertekan akibat wabah virus Corona atau Covid-19 tidak lagi dibebani oleh harga minyak yang tinggi.

    Namun, dari sisi APBN, penurunan harga minyak ini akan berpengaruh pada penerimaan yang bersumber dari minyak seperti PPh Migas dan PNBP SDA Migas. "Harga minyak sudah beberapa kali berada di bawah asumsi APBN, ke depan masih akan dilihat," kata Sri Mulyani.

    Meski demikian, Sri Mulyani masih enggan berkomentar apakah dinamika terbaru ini akan berdampak pada penerimaan dan postur APBN 2020 secara keseluruhan.

    Selain harga minyak yang turun, perkembangan wabah Covid-19 juga harus menjadi pertimbangan mengingat pemerintah juga akan memberikan stimulus untuk meredam dampak ekonomi dari wabah tersebut.

    Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia baru saja ambles 22 persen ke level US$ 30 per barel akibat perang harga antara Arab Saudi dengan Rusia. Jatuhnya harga ini merupakan yang terparah terhitung sejak 1991.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.