RI Dianggap Sulit Ambil Alih Pasar Ekspor Cina

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Ekspor Import. Getty Images

    Ilustrasi Ekspor Import. Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan Indonesia sulit memanfaatkan momentum untuk mengambil alih pangsa pasar ekspor Cina karena dampak wabah virus Corona Covid-19. Dia melihat kelemahan Indonesia, yaitu barang-barang andalan ekspor bukan barang manufaktur, tetapi barang komoditas yang belum diolah atau bahan mentah.

    "Barang-barang ekspor kita bukan substitute dari barang-barang manufaktur produksi Cina," kata Piter saat dihubungi, Ahad, 8 Maret 2020.

    Kalaupun ada barang-barang manufaktur Indonesia yang sama dengan barang-barang Cina, masih akan sulit bersaing dari sisi harga. "Kita sudah terlalu lama tidak mengembangkan industri manufaktur," ujarnya.

    Karena itu, dia menilai Indonesia harus menguatkan dulu industri manufaktur. Meskipun, kata Piter, hal itu perlu waktu yang tidak cepat.

    Beberapa negara, telah mengurangi impor dari Cina akibat dampak wabah virus Corona. Salah satunya Prancis. Dalam situs techtimes.com, Menteri keuangan Perancis Bruno Le Maire mengatakan negara tersebut harus melihat ke dalam memproduksi produk mereka sendiri dari pada mengandalkan impor dari Cina.

    Menurut Le Maire, bahkan produksi baterai dapat dilakukan di dalam negeri dan impor produk tertentu harus diminimalkan. Dia mengambil sikap itu untuk fokus pada kemampuan manufaktur Prancis.

    "Jika Amerika Serikat dapat melakukannya, Eropa harus dapat melakukan hal yang sama," kata dia, Senin, 24 Februari 2020.

    Le Maire mengatakan hal itu bukan proteksionisme, namun merupakan tanggung jawab. Dan itu, kata dia, dilakukan karena bahkan warga Prancis mulai takut dengan Coronavirus mematikan dari Wuhan.

    Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan perlambatan ekonomi Cina bisa jadi celah bagi pengusaha dengan memanfaatkan pasar ekspor negara tirai bambu itu. "Selama ini, ekspor terbesarnya (Cina) adalah barang-barang elektronik. Mungkin industri kita belum bisa menggantikannya. Tetapi ada potensi lain yang bisa kita ambil seperti fesyen," ucapnya.

    HENDARTYO HANGGI | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.