Saham Unggulan Berguguran Akibat Virus Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Pekerja berjalan di dekat monitor pergerakan bursa saham saat pembukaan perdagangan saham tahun 2020 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 2 Januari 2020. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Harga saham sejumlah emiten unggulan (blue chips) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir mengalami penurunan, tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 28 Februari 2020 yang tercatat 5.452,704 poin, terkoreksi 7,3 persen dibanding perdagangan Jumat pekan lalu pada 5.882,255 poin.

    "Perdagangan saham di BEI dalam sepekan menurun, akibat imbas dari semakin meluasnya virus corona (Covid-19) ke sejumlah negara yang memicu tekanan pada perkonomian global," kata pengamat pasar modal Luke Syamlan dalam keterangannya di Jakara, Jumat, 28 Februari 2020.

    Menurut Luke yang juga CEO Teman Trader ini, selain virus corona, isu krisis likuditas juga telah membuat investor asing menarik dananya dari pasar sekitar Rp1,75 triliun.

    Salah satu saham unggulan yang terkoreksi adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang pada perdagangan Jumat (28/2), tercatat sebesar Rp 3.490 per lembar, turun 5,42 persen dari sebelumnya sebesar Rp 3.690 per lembar.

    Penurunan dalam sepekan juga dialami empat emiten perbankan besar yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank BCA Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank BNI (Persero) Tbk.

    Saham Bank Mandiri (BMRI) yang terkoreksi menjadi Rp 7.275 per lembar dari sebelumnya Rp7.900 per lembar. Saham Bank BCA (BBCA) turun dari Rp 33.075 per lembar menjadi Rp 31.450 per lembar.

    Saham Bank BRI (BBRI) terkoreksi menjadi Rp 4.190 per lembar dari sebelumnya Rp 4.510 per lembar, sedangkan saham Bank BNI (BBNI) ditutup sebesar Rp 7.025 per lembar turun dari sebelumnya Rp 7.775 per lembar.

    Menurut Luke, pada perdagangan selama sepekan hampir semua sektor terkoreksi. "Kondisi ini, sekaligus menampik isu bahwa penurunan saham Telkom akibat statement Menteri BUMN Erick Thohir yang sempat menyorot kinerja perusahaan itu," katanya.

    Ia menjelaskan, bukan karena statement Menteri BUMN yang bikin sentimen negatif bagi Telkom, tetapi karena faktor global. "Dari sisi fundamental, Telkom juga sejauh ini masih lebih bagus dibanding operator telekomunikasi dan industrinya," ujar Luke.

    Sementara itu VP Corporate Communication Telkom Arif Prabowo mengatakan, pada pekan ini saham-saham operator telekomunikasi tengah terkoreksi imbas kondisi makro ekonomi. "Tidak terkecuali saham Telkom. Ini bisa kita lihat dari IHSG di BEI yang memang sedang mengalami penurunan cukup tajam," kata Arif.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.