IHSG 'Terbakar', Kapitalisasi Pasar di BEI Susut Rp 143 Triliun

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini parkir di zona hijau. TEMPO/Tony Hartawan

    Aktivitas di hari pertama perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, 10 Juni 2019. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) siang ini parkir di zona hijau. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia anjlok senilai Rp 143 triliun dalam sehari. Merosotnya kapitalisasi pasar ini seiring dengan terjun bebasnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 2,5 persen.

    Hingga Kamis, 27 Februari 2020 pukul 14.00 WIB, IHSG telah terkoreksi 2,51 persen atau 142,53 poin menjadi 5.546,39. Sebelumnya pada penutupan sesi I, IHSG anjlok 2,63 persen atau 149,54 poin ke level 5.539,38. Ini menjadi level terendah sejak 16 Maret 2017 yang sempat di posisi 5.518,24.

    Sejalan dengan terbakarnya IHSG, kapitalisasi pasar di BEI juga menurun Rp143 triliun, dari Rp 6.577 triliun menjadi Rp 6.434 triliun. Pada Rabu kemarin, kapitalisasi pasar juga berkurang Rp 114 triliun dibandingkan hari sebelumnya.

    Saat ini, dari sembilan sektor yang ada, semuanya menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I. Sektor yang melemah paling banyak adalah finansial (-3,99 persen), industri dasar (-2,94 persen), dan pertanian (-2,70 persen).

    Dari 682 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 62 saham menguat, 330 saham melemah, dan 290 saham stagnan. Bahkan saham yang semula moncer seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kini juga melorot, masing-masing 7,81 persen dan 3,35 persen. Inilah yang menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara