Terserang Virus Afrika, Ratusan Babi di NTT Mati

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dengan alat berat memasukkan bangkai babi ke lubang saat akan dikuburkan, di tepi Sungai Bederah, Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa 12 November 2019. Sedikitnya 366 bangkai babi dikuburkan di beberapa titik dari 5.800 ekor babi mati yang diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

    Petugas dengan alat berat memasukkan bangkai babi ke lubang saat akan dikuburkan, di tepi Sungai Bederah, Kelurahan Terjun, Medan, Sumatera Utara, Selasa 12 November 2019. Sedikitnya 366 bangkai babi dikuburkan di beberapa titik dari 5.800 ekor babi mati yang diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumut. ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

    TEMPO.CO, Kupang - Sedikitnya 574 babi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) mati, karena terserang virus Hog Cholera atau Demam Babi Afrika (ASF)  yang masuk melalui perbatasan Timor Leste. 
     
    "Sudah ada 574 babi yang mati, karena virus Afrika. Kami sudah coba lakukan pengawasan, namun namanya juga virus," kata Kepala Dinas Peternakan NTT, Dani Suhadi kepada Tempo, Kamis, 27 Februari 2020.
     
    Informasi ini didapat, menurut dia, setelah pihaknya mengirimkan sampel babi yang mati ke laboratorium yang ditunjuk pemerintah di Medan, Sumatera Utara. "Sudah dipastikan, babi mati karena virus afrika," tegasnya.
     
    Sedangkan babi yang mati di wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS) masih belum dipastikan, karena sampel babi baru dikirim ke laboratorium. "Kami belum tahu hasilnya," katanya.
     
    Virus afrika ini, menurut dia, terkenal cukup ganas bagi babi, jika babi yang terserang virus menginjak sesuatu, seperti sandal, pakaian atau benda lainnya, maka akan cepat menginveksi babi lainnya yang menyentuh benda-benda itu. "Dipastikan babi yang teriveksi mati," tegasnya.
     
    Karena itu, lanjut dia, upaya pencegahan yang dilakukan yakni memisahkan babi yang sehat, dan babi yang sudah terjangkit virus tersebut. "Virus ini tidak sonosis atau menyerang manusia," tegasnya.
     
    Diakuinya matinya babi secara masal ini menyebabkan masyarakat ketakutan untuk mengkonsumsi daging babi, namun sebenarnya tidak masalah. Asalkan babi yang dikonsumsi dipotong di Rumah Potong Hewan(RPH) dan dimasak dengan suhu hingga mencapai 100 persen. Dengan begitu akan mematikan virus tersebut. "Tidak ada larangan untuk konsumsi daging babi, hanya ketakutan masyarakat saja," ujarnya.
     
    Sebelumnya, 50 ekor babi di Kota Kupang dilaporkan mati mendadak secara masal. Dugaan sementara, babi yang mati akibat terserang hog colera. 

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.