Erick Thohir: Museum Nabi Muhammad Jadi Pengingat Islam Itu Damai

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menunjukkan gambar rencana pengembangan Pelabuhan Benoa, Jumat, 14 Februari 2020. Nilai investasi pengembangan Pelabuhan Benoa Rp 5,3 triliun. TEMPO/ Made Argawa

    Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir menunjukkan gambar rencana pengembangan Pelabuhan Benoa, Jumat, 14 Februari 2020. Nilai investasi pengembangan Pelabuhan Benoa Rp 5,3 triliun. TEMPO/ Made Argawa

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan Museum Internasional Sejarah Nabi Muhammad SAW dan Peradaban Islam (Museum Nabi Muhammad) yang sedang dibangun dapat menjadi pengingat bahwa Islam merupakan agama yang damai dan penuh kasih.

    "Museum ini akan menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam itu dilakukan dengan cara yang indah, penuh kasih sayang dan damai," ujar Erick di Jakarta, Rabu, 26 Februari 2020.

    Erick juga menambahkan bahwa selain dapat menjadi pengingat atas penyebaran Islam yang damai, museum tersebut juga dapat menjadi tempat untuk mempelajari sejarah terkait Islam. "Selain itu sebagai tempat untuk mempelajari sejarah (Islam)," katanya.

    Menurut rencana, Museum Nabi Muhammad akan terdiri dari dua lantai dengan total luas bangunan mencapai 10 ribu meter persegi lebih.

    Selain ruang pameran yang berisi benda-benda bersejarah Nabi serta peradaban Islam, dalam kompleks museum tersebut juga terdapat auditorium, masjid, dan lapangan luas untuk kegiatan agama serta manasik haji.

    Museum tersebut juga tak hanya berisikan hadis-hadis yang menceritakan kisah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, namun menuturkan pula kisah-kisah fenomenal dalam perkembangan islam, seperti Isra Mikraj, perjalanan hijrah Nabi, hingga maket kota Mekkah dan Madinah di zaman Rasulullah SAW hingga era sekarang.

    "Sesuai dengan teknologi sekarang, maka tampilan diorama atau kisah-kisah serta benda sejarah sejak zaman Rasulullah akan ditampilkan dalam tiga dimensi, sehingga siapapun yang melihatnya akan bisa mengetahui dan mempelajari dengan detail,” ungkap Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, Syafruddin yang sekaligus Kepala Museum.

    Syafruddin menambahkan, bahwa naskah, manuskrip, literatur, hingga benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan Rasulullah serta peradaban Islam yang tersaji di dalam museum tersebut merupakan hasil dari pengumpulan yang dilakukan selama 14 tahun oleh Yayasan Wakaf Assalam dari berbagai belahan dunia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.