Sentimen Utang Dinilai Membuat Saham BUMN Karya Turun

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pembangunan box culvert 2x2 meter di sepanjang sisi barat Jalan D.I. Panjaitan, tampungan air dengan ukuran 16x4 meter, dan sumur resapan di sekitar proyek Tol Becakayu (Bekasi, Cawang, Kampung Melayu), Cawang, Jakarta Timur. Pembangunan dilakukan oleh kontraktor PT Waskita Karya usai terjadinya banjir di sekitar lokasi proyek pada Rabu, 3 April 2019. Sumber: Waskita Karya

    Suasana pembangunan box culvert 2x2 meter di sepanjang sisi barat Jalan D.I. Panjaitan, tampungan air dengan ukuran 16x4 meter, dan sumur resapan di sekitar proyek Tol Becakayu (Bekasi, Cawang, Kampung Melayu), Cawang, Jakarta Timur. Pembangunan dilakukan oleh kontraktor PT Waskita Karya usai terjadinya banjir di sekitar lokasi proyek pada Rabu, 3 April 2019. Sumber: Waskita Karya

    TEMPO.CO, Jakarta- Saham emiten BUMN konstruksi ternama menunjukkan kinerja yang kurang menggembirakan beberapa sepekan terakhir. Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan berujar kondisi tersebut menggambarkan persepsi pasar yang cenderung pesimistis terhadap prospek keuangan perseroan, khususnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP). 

    Alfred menuturkan investor mulai khawatir akan beban utang empat perusahaan konstruksi pelat merah yang melonjak lebih dari 100 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir.  “Proyek untuk BUMN karya memang bisa dipastikan akan terus mengalir deras khususnya yang berasal dari pembangunan infrastruktur pemerintah, namun ketika implikasinya justru membuat mereka berisiko, malah membuat harga saham turun,”  ujarnya kepada Tempo, Selasa 25 Februari 2020.

    Tumpukan utang terbesar ditanggung oleh WSKT, dengan total liabilitas sebesar Rp 108,01 triliun pada kuartal III 2019. WIKA menyusul dengan total liabilitas sebesar Rp 44,32 triliun. Sedangkan, penurunan saham paling tajam dalam sebulan terakhir dialami oleh ADHI, yaitu -21,24 persen. 

    Menurut Alfred, lampu kuning beban utang ini harus segera diselesaikan untuk kembali mendapatkan kepercayaan investor. “Eksplorasi sumber pendanaan untuk infrastruktur memang terbatas, namun sumber pendanan dari utang ini juga ada batasnya. Pemerintah sebagai pemberi tugas harusnya memahami itu, kalau memang tugasnya besar ya kasih mereka modal besar juga,” katanya. 

    Dia menambahkan kekhawatiran investor tak bisa dikesampingkan, meski pemerintah bertindak sebagai pemegang saham pengendali keempat perusahaan itu. “Pemerintah harusnya sadar kalau mau memberikan penugasan besar dan berisiko ya dilakukan pada perusahaan yang dimiliki 100 persen oleh pemerintah, atau BUMN karya yang bukan emiten,” ucap Alfred. “Ketika rugi ya ditanggung pemerintah, tapi kalau seperti sekarang kan ini masuk juga menjadi milik publik, sehingga ini ada etika yang dilakukan pemerintah.” 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.