Hari Ini, Rupiah dan Won Jadi Mata Uang Paling Loyo di Asia

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    Ilustrasi Uang Rupiah. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

    TEMPO.CO, Jakarta - Data yang dilansir Bloomberg menunjukkan, hari ini Senin, 24 Februari 2020, rupiah dan won Korea Selatan memimpin pelemahan mata uang emerging market di Asia. Pelemahan dua mata uang ini terhadap dolar menyusul semakin meluasnya infeksi virus corona (Covid-19) di luar Cina, termasuk Korea Selatan,  meningkat selama akhir pekan.

    Hal tersebut menambah kekhawatiran dampak wabah virus mematikan itu terhadap ekonomi global. Indeks saham di kawasan ini pun melemah untuk hari ketiga, sementara mayoritas obligasi naik.

    “Aksi penghindaran aset berisiko yang lebih luas mengingat penyebaran kasus Covid-19 di luar Cina memicu sebagian arus keluar (outflow) sehingga yang membebani rupiah dan mata uang lainnya di Asia,” ujar Chang Wei Liang, seorang pakar strategi makro di DBS Bank, Senin. 

    Korea Selatan diketahui telah meningkatkan level siaga penyakit menular negara ke level tertinggi setelah peningkatan kasus hingga 20 kali lipat. Jumlah kasus di Korea Selatan saat ini mencapai 602 orang, meningkat 166 kasus dibandingkan hari sebelumnya.

    Jumlah korban terinfeksi juga meningkat di Italia menjadi 157 kasus, dengan total korban meninggal mencapai 3 jiwa. “Selama akhir pekan, situasinya memburuk dan ini membuat investor menghindari aset berisiko, sekaligus membebani pasar emerging market global,” ujar San Attarangsan, seorang analis di Kasikornbank, Bangkok.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara