Pemerintah Siap Impor Gula dari India Sebelum Musim Produksi

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp 11.000-11.500/kg. TEMPO/Rizki Putra

    Petani tebu dari berbagai daerah di Indonesia menaburkan gula import saat aksi demo didepan istana negara, 28 Agustus 2017. Petani tersebut menuntut harga gula yang merosot tajam rata-rata Rp 9.000-9.500/kg, jauh dibandingkan tahun 2016 yang rata-rata Rp 11.000-11.500/kg. TEMPO/Rizki Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengatakan stok gula dalam negeri masih mencukupi hingga April lantaran ada sisa tahun lalu (carry over) over sekitar 1 juta ton. Untuk memenuhi stok 2020, Kasdi mengatakan pemerintah bersiap mengimpor gula mentah sebelum musim produksi atau giling yang dimulai sekitar Mei mendatang. 

    Pemerintah memutuskan akan mengimpor gula mentah atau raw sugar dari berbagai negara, seperti Thailand dan Australia untuk kebutuhan gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP). Selain itu, India juga akan menjadi pemasok gula impor mentah yang akan diolah jadi GKP di dalam negeri. "Rencana impor GKM dari India akan segera direalisasikan," ujar Kasdi kepada Tempo, Jumat 21 Februari 2020. 

    Soal impor gula dari India ini, Kasdi mengatakan telah diputuskan oleh Kementerian Koordinator Perekonomian bahwa Indonesia akan impor raw sugar untuk kebutuhan konsumsi (non-industri) sebanyak 495 ribu ton. Volume impor gula tersebut merupakan kesepakatan untuk alokasi impor tahun 2019 yang belum terealisasi. 

    "Terakhir kan [terkendala] soal ICUMSA. Itu nanti untuk persyaratan dari India untuk masuk," kata Kasdi beberapa waktu lalu. 

     
    Pekan lalu, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir pemerintah juga melakukan diversifikasi impor gula sejak akhir tahun lalu. Jika biasanya dari Thailand, Australia, atau Brazil, pemerintah mencoba membuka keran dari India. Pemerintah menurunkan bea masuk Gula Kristal Rafinasi (GKR) asal India menjadi 5 persen. Kebijakan ini merupakan barter untuk memudahkan sawit Indonesia masuk India.
     
    “Ini juga untuk memudahkan peralihan impor, kalau Australia tersendat, bisa India,” kata Iskandar. 
     
    Selain bea masuk, pintu masuk impor gula India ini sudah disiapkan pemerintah sejak tahun lalu. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara Asia Tenggara pada November di Thailand tahun lalu. Pemerintah Indonesia menjalin kesepakatan dengan India agar tidak akan membedakan persyaratan ekspor produk kelapa sawit Indonesia dengan Malaysia. Imbal baliknya lndonesia bersedia membeli gula khususnya GKM.

    Untuk mengakomodasi impor gula India, pemerintah mengubah standar ICUMSA (International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis) dari 1.200 menjadi 600. India umumnya memiliki ICUMSA 600 IU untuk gula mentah. Keputusan ini didukung oleh pencabutan keputusan Badan Standardisasi Nasional (BSN) Nomor 100 Tahun 2008 dan Nomor 159 Tahun 2011 yang mengatur standar gula kristal mentah pada 17 Februari lalu. 

    Melansir dari the Economic Times, otoritas India pun telah menyampaikan rencana ekspor 250 ribu ton gula mentah ke Indonesia hingga Mei tahun ini. India akan kembali membidik Indonesia setelah Thailand sebagai negara pemasok utama gula mentah ke Indonesia mengalami penurunan produksi akibat kekeringan. 

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.