Kinerja Industri Alat Berat RI Belum Terimbas Virus Corona

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang negatif virus corona menggunakan masker saat meninggalkan kapal pesiar Diamond Princess di Daikoku Pier Cruise Terminal di Yokohama, Jepang, 21 Februari 2020. Ratusan penumpang dari berbagai negara diturunkan dari kapal pesiar REUTERS/Athit Perawongmetha

    Sejumlah penumpang negatif virus corona menggunakan masker saat meninggalkan kapal pesiar Diamond Princess di Daikoku Pier Cruise Terminal di Yokohama, Jepang, 21 Februari 2020. Ratusan penumpang dari berbagai negara diturunkan dari kapal pesiar REUTERS/Athit Perawongmetha

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Fajar Harry Sampurno mengatakan, wabah Virus Corona tidak begitu berdampak bagi industri alat berat Tanah Air. Sebab, saat ini nilai ekspor alat berat ke Cina memang tidak begitu besar, yakni masih di bawah 10 persen dari total.

    "Sampai saat ini di industri alat berat masih belum banyak ekspor ke Cina, kami besarnya ke Amerika dan Eropa," ujar Fajar di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Jakarta, Jumat, 21 Februari 2020. Apalagi, sebagian bahan baku di industri tersebut juga berasal dari dalam negeri. 

    Menurut Fajar, produk ekspor andalan perusahaannya antara lain peralatan turbin, boogie, dan peralatan kereta api. Adapun pangsanya adalah ekspor peralatan turbin ke Eropa dan peralatan kereta api ke Amerika Serikat. "Itu turbin untuk gas dan batu bara."

    Fajar menuturkan perusahaannya masih belum masuk ke industri energi baru dan terbarukan, lantaran sektor tersebut sudah digarap oleh perusahaan pelat merah lainnya. Perseroan justru membidik produksi untuk barang-barang substitusi impor, salah satunya untuk roda boogie.

    Pada 2019, BUMN ini mencatat pendapatan Rp 2,22 triliun atau meningkat dari 2018 yang tercatat Rp 2,177 triliun. Sementara EBITDA tahun lalu tercatat Rp 206 miliar. Pada periode tersebut, perseroan membukukan laba bersih Rp 71 miliar.

    Untuk tahun ini, Fajar mengatakan perseroan menargetkan adanya peningkatan nilai ekspor hingga dua kali lipat. Kalau operasi-operasi yang direncanakan bersama dengan lima perusahaan pelat merah yang tergabung dalam kluster manufaktur berhasil, maka ia memproyeksikan penjualan bisa meningkat 50 persen atau 1,5 kali lipat.

    "Yang penting adalah efisiensi, sehingga laba bisa meningkat dua kali lipat," ujar Fajar. Kendati, saat ini kendala utama dari rencana-rencana tersebut adalah arus kas.

    Saat ini, pemerintah tengah mengkaji rencana terkait BUMN kluster manufaktur Ada enam perseroan yang tergabung dalam kluster tersebut, antara lain PT Barata Indonesia (Persero), PT Boma Bisma Indra (Persero), PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero), PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari (Persero). PT Industri Kereta Api (Persero), dan PT Industri Kapal Indonesia (Persero).

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.