Bos BCA Sebut MRT dan Ojol Penyebab Kredit Kendaraan Turun

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale

    CEO BCA Jahja Setiaatmadja di sela kegiatan Leadership Sharing Session 100 Bankir di Hotel J.W. Marriot Mega Kuningan, Jakarta Pusat, 28 November 2017. TEMPO Yohanes Paskalis Pae Dale

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menyebutkan perubahan pola hidup masyarakat yang lebih memilih menggunakan transportasi umum menjadi faktor penurunan kredit kendaraan bermotor (KKB) pada 2019 yaitu 1,1 persen menjadi Rp 47,6 triliun.

    Jahja mengatakan kota penyumbang terbesar terhadap permintaan kredit kendaraan bermotor yaitu Surabaya, Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi saat ini telah didominasi oleh transportasi publik mulai ojek online hingga Moda Raya Terpadu (MRT). “Adanya ojek online ini dan MRT lumayan menurunkan permintaan pasar khususnya di Jakarta,” katanya di Jakarta, Kamis, 21 Februari 2020.

    Jahja menuturkan keberadaan MRT mampu mengakomodasi warga dalam berpergian. Ditambah lagi dengan ojol yang dapat menjangkau ke daerah dan menghubungkan ke stasiun. Ojek online maupun MRT membuat masyarakat merasa tidak perlu memiliki kendaraan pribadi.

    Selain itu, ia mengatakan sekarang kemampuan anak muda dalam membeli kendaraan juga berbeda sehingga adanya transportasi online dapat mendukung pola hidup mereka yang ingin bergaya menaiki mobil saat beraktivitas.

    “Kita tidak menyangkal bahwa anak muda mungkin berbeda kalau naik transportasi online kan dapat mobilnya keren-keren jadi bisa menikmati. Ini pola hidup yang juga merubah KKB padahal dari segi bunga kita cukup kompetitif yaitu 3,63 persen satu tahun,” katanya.

    Tak hanya itu, Jahja menyatakan adanya persaingan dengan perusahaan pembiayaan lainnya juga menjadi tantangan tersendiri dalam merealisasikan permintaan kredit kendaraan bermotor.

    Hal itu disebabkan karena ada hal yang diberikan perusahaan finance tersebut kepada pembelinya yang tidak bisa diberikan juga oleh BCA kepada nasabah yaitu berupa diskon.

    “Kita juga punya pesaing khususnya mobil itu dari finance company yang dimiliki manufacturing. Mereka ada kemungkinan untuk menjual produk-produk yang sudah mereka buat,” katanya.

    Terlebih lagi, lanjutnya,  BCA tidak terlalu dominan dalam permintaan kredit kendaraan bermotor roda dua. Sebab telah ada merek dominan yang menguasai pasar sehingga pihaknya sulit untuk masuk.

    “Produsen yang memiliki brand dominan menguasai pasar jadi kita masuk ke situ agak sulit. Apalagi di sektor motor kita belum jadi top of mind kalau mobil-mobil carinya BCA tapi tidak untuk motor,” ujarnya.

    Pada 2019, kredit konsumer BCA tumbuh 4,3 persen yaitu Rp 158,3 triliun dengan KPR Rp 93,7 triliun atau tumbuh 6,5 persen, KKB turun 1,1 persen menjadi Rp 47,6 triliun dan outstanding kartu kredit tumbuh 9,4 persen menjadi Rp 14,1 triliun.

    Pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB) roda empat hingga Desember tahun lalu Rp 45,44 triliun yakni lebih besar dibandingkan periode sama tahun 2018 Rp44,81 triliun atau tumbuh 1,4 persen (yoy).

    Sedangkan kredit kendaraan bermotor (KKB) roda dua hingga Desember 2019 Rp 2,19 triliun yaitu lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2018 Rp 3,34 triliun atau terkoreksi sebesar 34,5 persen.

    Secara total, kredit kendaraan bermotor roda dua dan empat pada 2019 yang Rp 47,63 triliun merupakan lebih kecil dibandingkan periode sama tahun 2018 yaitu Rp 48,15 triliun atau turun 1,1 persen.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara