Tagihan Asabri ke Benny Tjokro dan Heru Hidayat Jadi Rp 11,4 T

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri, Letjen TNI (purn) Sonny Widjaja memberikan pernyataan terkait dugaan korupsi di kantornya, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 16 Januari 2020. TEMPO/Francisca

    Direktur Utama PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri, Letjen TNI (purn) Sonny Widjaja memberikan pernyataan terkait dugaan korupsi di kantornya, Cawang, Jakarta Timur, Kamis, 16 Januari 2020. TEMPO/Francisca

    Tempo.Co, Jakarta - Direktur Utama PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau Asabri Sonny Widjaja membenarkan adanya kenaikan nilai tagihan dari perseroannya kepada Benny Tjokrosaputro dan Heru Hidayat.

    Sebelumnya, penagihan dilakukan untuk mengembalikan aset perusahaan senilai Rp 10,9 triliun. Namun, dalam paparan yang disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat hari ini, Rabu, 19 Februari 2020, Sonny berujar nilai tagihan itu menjadi Rp 11,4 triliun.

    "Untuk penurunan aset investasi dengan nilai total keduanya adalah Rp 11,4 triliun yang terdiri dari HH (Heru Hidayat) itu sebesar Rp 5,8 triliun dan saudara BTJ (Benny Tjokrosaputro) sebesar Rp 5,6 triliun," ujar Sonny dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 9 Februari 2020.

    Untuk penagihan, Sonny mengatakan pihaknya juga akan memberdayakan kepolisian lantaran ia merasa tak memiliki wewenang untuk menarik dan menyita aset. "Semua kami sudah lapor ke Kementerian Pertahanan, Polri, yang terjadi ini sehingga beliau-beliau bisa membantu terhadap pemulihan (aset dari) kedua orang ini."

    Kami juga akan memperdayakan kepolisian untuk menagih karena kami tidak punya wewenang untuk manarik atau menyita asetnya. Semua kami sudah lapor ke Kementerian Pertahanan, Polri, yang terjadi ini sehingga beliau-beliau bisa membantu terhadap pemulihan kedua orang ini.

    Dalam paparannya, Sonny mengatakan secara umum perusahaan mengalami kondisi, yaitu pendapatan premi lebih kecil dibanding beban klaim dan cadangan polis masa depan. Belum lagi adanya manfaat yang tidak ditanggung oleh premi.

    Karena penerimaan premi yang lebih kecil daripada beban klaim dan beban liabilitas manfaat polis masa depan, Sonny mengatakan perseroan mengalami negative underwriting. Adapun negative underwriting itu sudah dimulai sejak 1976. Selepas itu, pada 2010 perseroan mengalami underwriting negatif Rp 312 miliar dan pada 2019 (unaudited) mengalami negative underwriting sebesar Rp 1,239 triliun.

    Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham-saham yang menjadi portofolio Asabri berguguran, bahkan penurunannya mencapai lebih dari 90 persen sepanjang tahun lalu. Total ada 14 saham emiten yang dikoleksi perseroan. Penurunan harga saham drastis itu di antaranya terjadi pada saham PT SMR Utama Tbk (SMRU) sebesar 92,31 persen ke posisi Rp 50, dimana perseroan memiliki porsi saham 6,61 persen.

    Sejumlah saham lainnya yang dikoleksi dan mengalami penurunan adalah PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE), PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT Hanson International Tbk (MYRX), dan PT Pool Advista Finance Tbk (POOL).

    CAESAR AKBAR | KORAN TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.