Akuisisi Manajemen Aset, BTN: Tinggal Menunggu Restu OJK

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana salah satu stan milik Bank BTN dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019, yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Ahad, 28 Juli 2019. Tempo/Dias Prasongko

    Suasana salah satu stan milik Bank BTN dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019, yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Ahad, 28 Juli 2019. Tempo/Dias Prasongko

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. sedang menunggu lampu hijau dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengakuisisi perusahaan manajemen aset.

    Perseroan berencana membeli perusahaan manajemen aset pada tahun ini sebagai salah satu syarat untuk mengelola dana Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

    Direktur Finance, Treasury and Strategy BTN Nixon L. Napitupulu mengatakan rencana ini merupakan lanjutan dari rencana bisnis bank (RBB) 2019 dan tinggal menunggu restu dari pihak regulator.  

    "Rencana sudah dari RBB tahun lalu, tinggal tunggu izin [OJK] saja sebenarnya," katanya kepada Bisnis, Selasa 18 Februari 2020.

    Nixon menjelaskan perseroan telah menyiapkan dana Rp400 miliar sebagai kisaran awal. Namun, jika izin masih belum juga keluar, bank harus melakukan valuasi ulang dana yang harus disiapkan untuk mengakuisisi perusahaan aset manajemen yang diincar tersebut.

    Perseroan enggan menyebut perusahaan mana yang dibeli. Kata Nixon, perusahaan ini merupakan salah satu anak usaha BUMN.

    Bank BTN menargetkan dapat piloting penyaluran pembiayaan bersama Tapera pada tahun ini. Kendalanya, hingga saat ini turunan dari peraturan atau Undang-undang Tapera belum juga keluar.

    Seperti diketahui, BTN menutup 2019 dengan mencatat penyaluran kredit senilai Rp255,82 triliun atau tumbuh 7,32 persen yoy. Sebesar 89 persen porsi penyaluran kredit didominasi oleh KPR, baik subsidi maupun non-subsidi.

    KPR Subsidi menjadi penyumbang utama peningkatan tersebut. KPR Subsidi Bank BTN tercatat naik 13,2 persen yoy dari Rp98,17 triliun menjadi Rp111,13 triliun pada kuartal IV/2019. KPR non-subsidi juga terpantau tumbuh di level 3,71 persen yoy menjadi Rp80,64 triliun pada akhir Desember 2019.

    Dari sisi profitabilitas, perolehan laba perseroan merosot 92,55 persen yoy menjadi sebesar Rp209,26 miliar pada 2019. Tahun ini, perseroan optimis laba bersih dapat ditingkatkan hingga mencapai Rp3 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.