Harga Bawang Putih Naik, Indef Sebut Konsumen Rugi Rp 247 Miliar

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata tumpukan karung bawang putih dari China di Pasar Kramatjati, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020. Penutupan dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Corona dari Cina. Tempo/Tony Hartawan

    Pedagang menata tumpukan karung bawang putih dari China di Pasar Kramatjati, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020. Penutupan dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus Corona dari Cina. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Mirah Midadan menyebutkan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kerugian konsumen di Indonesia akibat tingginya harga bawang putih mencapai Rp 247 miliar.

    Dalam Seminar Nasional Ekonomi Pertanian, Mirah menyebutkan jumlah kerugian konsumen tersebut dihitung dari pembelian harga bawang putih dengan harga rata-rata Rp 50.000 per kg di wilayah DKI Jakarta selama dua pekan pertama Februari 2020.

    "Kenaikan harga bawang putih yang terjadi per 2 Februari sampai 14 Februari menyebabkan kerugian konsumen rata-rata sebesar Rp 247 miliar atau setara dengan seperempat triliun rupiah," kata Mirah di Jakarta, Selasa, 18 Februari 2020.

    Dalam penelitian tersebut, INDEF menggunakan asumsi perhitungan konsumsi bawang putih dari total impor sebesar 480.000 ton.

    Kemudian, data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) menunjukkan harga bawang putih meningkat per 1 Februari 2020 dari Rp40.000 per kg menjadi sekitar Rp54.000 per kg pada 14 Februari 2020.

    Namun demikian, melambungnya harga bawang putih ini hanya terjadi di pasar tradisional, sedangkan di pasar modern tercatat lebih rendah.

    Berdasarkan data PIHPS, harga bawang putih di pasar tradisional DKI paling tinggi sebesar Rp 69.150 per kg yang terjadi pada 11-14 Februari 2020. Sementara itu, harga bawang putih di pasar modern DKI Jakarta tertinggi sebesar Rp 43.850 per kg selama dua pekan dari 5-18 Februari 2020.

    Mirah menilai bahwa pasar modern cenderung bisa menahan harga lebih stabil karena memiliki gudang stok bawang putih, sehingga sewaktu-waktu terjadi lonjakan, pasokan dapat dikeluarkan dan harga cenderung lebih murah daripada pasar tradisional.

    "Kemungkinan lainnya, ada kerja sama yang memang terjadi di pasar modern untuk mendapatkan harga bawang putih yang lebih murah, bisa dari importir atau distributor langsung yang sudah bekerja sama," kata Mirah.

    Selain itu, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan harga bawang putih paling mahal. Padahal, masuknya impor bawang putih melalui Pelabuhan Tanjung Priok, di mana biaya logistik seharusnya tidak terlalu tinggi.

    "Bahkan harga bawang putih di Maluku, Papua, Sulawesi, lebih murah dari Jakarta. Apakah memang setinggi itu demand dari Jakarta, atau ada permainan menahan stok bawang putih, bisa saja terjadi," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara