Emil Salim Ingatkan Omnibus Law Tidak Kesampingkan Lingkungan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Emil Salim, menolak rencana Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan memindahkan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan, dalam diskusi INDEF di ITS Tower, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Agustus 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Mantan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto, Emil Salim, menolak rencana Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang akan memindahkan ibu kota negara ke Pulau Kalimantan, dalam diskusi INDEF di ITS Tower, Jakarta Selatan, Jumat, 23 Agustus 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Universitas Indonesia Emil Salim mengingatkan kepada pemerintah bahwa Omnibus Law Cipta Kerja harus mampu melingkupi, menyinergikan, serta menyeimbangkan tiga aspek yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan konsep pembangunan dengan mengutamakan Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disetujui dan diterapkan oleh seluruh negara di dunia sejak 2015 lalu.

    “Setelah 2015 dunia sepakat pembangunan itu timbal balik jadi ekonomi masuk ke tabung sosial dan lingkungan sehingga dalam pembangunan ketiganya itu menyatu dalam satu matriks tidak di pisah-pisah,” kata Emil Salim dalam acara Seminar Konsolidasi Demokrasi Menuju Keadilan Sosial, di Jakarta, Senin, 17 Februari 2020.

    Hal itu juga merespons pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi beberapa waktu lalu di pelabuhan udara soal prioritas pemerintah saat ini adalah ekonomi. "Saya rasa beliau ketinggalan, bahwa konsep pembangunan sekarang tidak lagi dipilah-pilah,” katanya.

    Mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kependudukan itu menjelaskan, tiga hal yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan memiliki dampak timbal balik dalam penerapannya sehingga prioritas pemerintah harus menyertakan ketiganya. “Ada timbal balik antara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Tidak lagi dipisahkan, sebab dalam membangun itu bukan ekonomi berdiri sendiri tapi akan berdampak ke lingkungan juga,” katanya.

    Oleh sebab itu, Emil yang merupakan Pembina Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia menegaskan terlepas dari upaya untuk menarik investor ke tanah air, Omnibus Law juga harus mengedepankan dua aspek lainnya agar memiliki manfaat lebih. “Maka lebih baik di dalam satu lagu bersama, jangan satu lagu keroncong, satu lagu jazz, tidak baik. Harus sinkronisasi tetapi di dalam sinkronisasi jangan dipilah-pilah."

    Masalah lingkungan seperti perubahan iklim yaitu salah satunya disebabkan oleh penggunaan sumber daya energi batu bara yang sebenarnya dilakukan untuk menunjang perekonomian. Bencana alam atau masalah lingkungan tersebut nantinya juga akan berdampak pada perekonomian itu sendiri sehingga jika tidak diseimbangkan maka upaya yang telah dilakukan akan sia-sia.

    “Terlepas dari pengusaha tapi kalau hanya ekonomi dan tidak mengindahkan bahwa mengolah sumber daya alam ada dampaknya bagi lingkungan nanti lingkungan ini menimbulkan biaya dan pukulan sehingga pertumbuhan ekonomi terganggu,” kata Emil Salim.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.