Ekspor Impor Januari Turun, BPS Sebut Bukan Karena Virus Corona

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 20 Oktober 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia pada September 2017 turun dibanding bulan sebelumnya. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memperkirakan dampak penyebaran virus Corona (Covid-19) terhadap kinerja neraca perdagangan baru terasa pada Februari 2020.

    Jika mengacu pada kronologis, BPS mencatat kasus virus Corona pertama ditemukan di Wuhan pada 31 Desember 2019. Setelah itu, penyebaran virus Corona dilakukan pada 3-5 Januari 2020. Pada 20 Januari, beberapa negara melakukan pemeriksaan suhu badan dan 21 Januari mulai jatuh korban.

    "Saya rasa, kita perlu mewaspadai efek virus Corona terhadap kinerja perekonomian khususnya ekspor-impor setelah libur Imlek. Dampaknya mungkin akan terlihat pada data Februari 2020. Kita semua perlu waspada," ungkap Suhariyanto saat konferensi pers di Gedung BPS, Senin, 17 Februari 2020.

    Dia memaparkan World Health Organization (WHO) menetapkan situasi darurat virus Corona pada 31 Januari 2020. Menurutnya, kewaspadaan terkait virus Covid-19 mulai terjadi setelah libur Hari Raya Imlek yang jatuh pada 25 Januari 2020.

    Sementara itu, BPS tidak menghitung secara detail angka atau realisasi ekspor dan impor per minggu. Data terbaru, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$870 juta pada Januari 2020.

    Defisit tersebut disebabkan posisi neraca ekspor sebesar US$ 13,41 miliar, lebih rendah dari neraca impor yang mencapai US$ 14,28 miliar.

    BPS mencatat ekspor nonmigas per Januari 2020 mencapai US$ 12,61 miliar atau turun 5,33 persen dibandingkan Desember 2019. Jika mengacu pada periode yang sama tahun lalu, ekspor januari 2020 turun sebesar 0,69 persen (yoy).

    Penurunan ekspor nonmigas Januari 2020 terhadap Desember 2019 terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewani/nabati sebesat US$ 703,2 juta (34,08 persen). Di sisi lain, terjadi peningkatan pesat pada komoditas logam mulia dan perhiasan/permata sebesar US$ 219 juta (57,84 persen).

    BPS melaporkan ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari 2020 naik 3,16 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 4,54 persen, sementara ekspor hasil tambang dan lainnya turun 19,15 persen.

    Ekspor nonmigas Januari 2020 terbesar adalah ke China yaitu US$ 2,10 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,62 miliar dan Jepang US$1,12 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 38,41 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,18 miliar.

    Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari 2020 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$2,34 miliar (17,47 persen), diikuti Jawa Timur US$ 1,58 miliar (11,76 persen) dan Kalimantan Timur US$1,26 miliar (9,38 persen).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara