Ada Virus Corona, BTN Yakin Investasi di Properti Tetap Moncer

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pameran REI Mandiri Property Expo 2018 di JCC, Jakarta, Senin, 19 November 2018. Pameran perumahan ini diikuti oleh 40 grup pengembang dengan 125 proyek hunian. TEMPO/Tony Hartawan

    Suasana pameran REI Mandiri Property Expo 2018 di JCC, Jakarta, Senin, 19 November 2018. Pameran perumahan ini diikuti oleh 40 grup pengembang dengan 125 proyek hunian. TEMPO/Tony Hartawan

    Tempo.Co, Jakarta - Direktur Utama Bank Tabungan Negara atau BTN Pahala Mansury menyebut sektor properti bisa menjadi alternatif investasi di tengah ketidakpastian global. Belakangan, kata dia, kondisi ekonomi makro global memang cenderung melesu. Belum lagi dengan adanya persoalan geopolitik dan merebaknya Virus Corona.

    "Kami melihat salah satu sektor yang bisa mendorong adanya investasi yang lebih meningkat adalah melalui sektor properti," ujar Pahala di Jakarta Convention Center, Sabtu, 15 Februari 2020. Karena itu, ia berharap penyaluran kredit subsidi dari perseroan juga bisa ditingkatkan.

    Saat ini, Pahala melihat sektor properti memiliki efek pengganda atau pengaruh terhadap 170 industri turunan, seperti konstruksi, semen, cat, dan lainnya. Ia berharap sektor-sektor tersebut bisa terus bertahan di tengah goncangan faktor eksternal.

    Kendati ada peluang, Pahala tak memungkiri ancaman resesi akibat kondisi geopolitik yang memanas serta mewabahnya Virus Corona yang melumpuhkan ekonomi Cina bisa menjadi tantangan berat juga. Pasalnya, itu juga bisa memengaruhi ekonomi Indonesia.

    Namun, Pahala optimistis sektor properti bisa bertahan dan bangkit di tengah ancaman dari faktor eksternal tersebut. Apalagi Pemerintah dan Bank Indonesia memberikan dukungan yang cukup ke sektor properti antara lain, peningkatan batasan tidak kena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) rumah sederhana dan rumah sangat sederhana, pembebasan PPN atas rumah/ bangunan korban bencana alam, penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 atas hunian mewah dari 5 persen menjadi 1persen, dan peningkatan batas nilai hunian mewah yang dikenakan PPh dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPNBM).

    Bank Indonesia juga mendukung sektor properti lewat kebijakan moneternya, antara lain relaksasi loan to value dan pelonggaran Giro Wajib Minimum dan penurunan suku bunga acuan atau BI Rate. “Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk mendukung sektor properti tetap tumbuh, karena itu Bank BTN tetap mendukung Program Sejuta Rumah yang telah dicanangkan Pemerintah dengan mengandalkan KPR Non Subsidi dan tetap berkomitmen menjadi Bank penyalur FLPP,” kata Pahala.

    Tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan kredit yang mayoritas ditopang sektor KPR sebesar 8-10 persen yang didorong pertumbuhan KPR secara keseluruhan sekitar 17 persen. Sementara untuk segmen KPR Subsidi, Bank berkode saham BBTN ini hanya menargetkan pertumbuhan sekitar 3 persen. 

    Angka pertumbuhan KPR Subsidi yang melandai disebabkan karena kuota FLPP yang diberikan BTN sebesar 220.000 unit, jumlah tersebut terdiri dari Fasilitas Likuidtas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 110.000 unit dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) sebanyak 40.000 unit-45.000 unit.

    Untuk mencapai target tersebut, strategi yang dijalankan Bank BTN salah satunya dengan aktif menggelar pameran yang mempertemukan konsumen dengan pengembang, seperti IPEX yang diramaikan oleh 105 pengembang. Pengembang tersebut menawarkan setidaknya ± 650 proyek hunian, mulai dari hunian tapak, vertical dengan desain minimalis dan modern berlokasi strategis, seperti di kawasan berbasis Transit Oriented Development yang tersebar di Jabodetabek yang saat ini sedang digandrungi generasi milenial.  

    Selain hunian yang sesuai dengan selera konsumen saat ini, Bank BTN juga menawarkan beragam promosi menarik diantaranya suku bunga KPR mulai dari 5,70 persrn fixed rate selama 1 Tahun (subsidi bunga dari pengembang pilihan), bebas biaya provisi, bebas biaya administrasi, bebas biaya appraisal dan discount asuransi jiwa 20 persen serta cashback tabungan hingga Rp 700.000 sesuai dengan plafond kredit yang diberikan.

    “Kami dalam waktu dekat akan menawarkan KPR dengan skema khusus yang dapat menangkap segmen Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang tidak kebagian FLPP KPR dengan skema khusus ini juga memfasilitasi pengembang rumah subsidi yang pasokannya melimpah namun sulit mendapatkan pembeli, “kata Pahala.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.