Luhut Pandjaitan Ungkap Dampak Investasi DFC dari Amerika Serikat

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Washington - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan menyebut soal dampak investasi dari US International Development Finance Corporation (Korporasi Keuangan Pembangunan Internasional AS/DFC).

    "Angkanya tidak spektakuler tapi kemauan mereka masuk beri confidence kepada perusahaan Amerika. Itu yang paling penting," kata Luhut yang ditemui di Washington DC, AS, Kamis malam waktu setempat.

    Luhut menjelaskan nantinya investasi DFC akan masuk ke Indonesia melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) yang digagas pemerintah. Namun, tidak menutup kemungkinan lembaga itu juga bisa menanamkan modal langsung ke sejumlah proyek tanpa melalui SWF.

    "Tapi SWF ini jadi indikator kalau DFC mau masuk ke situ. Kami sedang tunggu Undang-Undangnya selesai, mungkin 100 hari (rampung). Setelah jadi mereka langsung masuk," katanya.

    Luhut berharap pertengahan Maret mendatang saat Presiden Jokowi datang ke AS untuk menghadiri acara US-ASEAN Summit 2020, sudah ada pengumuman tahap awal soal nilai investasi yang akan dikucurkan DFC.

    "Mereka mau masuk di hydropower, toll road, seaport, airport, dan ibu kota baru. Spesifiknya di teknologi seperti autonomous electric vehicle dan lainnya," katanya.

    DFC sendiri, menilai Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial untuk digarap. Lembaga itu memang menyasar investasi di negara berkembang, termasuk Indonesia.

    DFC memiliki dana investasi dari pemerintah AS sebesar US$ 60 miliar sekitar Rp 840 triliun) dan bisa berkembang empat hingga lima kali lipat menjadi US$ 200 miliar (sekitar Rp 2.800 triliun, kurs Rp 14 ribu).

    Sebagai bukti keseriusan, lembaga itu bahkan berniat untuk membuka kantor perwakilan di Jakarta agar bisa menggarap potensi investasi di Tanah Air.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.