Faisal Basri Ragu Diskon PPh Badan Bakal Bisa Genjot Investasi

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

    TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom Faisal Basri menuturkan, hingga kini belum ada kajian yang meyakinkan tentang dampak diskon tarif pajak terhadap peningkatan investasi asing langsung. Karena itu, ia menilai sikap pemerintah yang membandingkan daya tarik Indonesia dengan Singapura hanya berdasarkan satu indikator,  kurang tepat.

    "Cina yang tarif PPh Badannya 25 persen dan India 25,17 persen–jauh lebih tinggi dari Singapura–terus diburu oleh investor asing," tulis Faisal dalam faisalbasri.com, Jumat, 14 Februari 2020.

    Komentar Faisal itu berkaitan dengan Rancangan Undang-undang Omnibus Law Perpajakan yang telah disetor pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

    Menurut Faisal, Omibus Law Perpajakan memang tidak menimbulkan kontroversi karena tidak langsung menyangkut hajat hidup orang banyak, ketimbang RUU Cipta Kerja. "Banyak sekali yang akan dinikmati oleh korporasi demi untuk menggenjot investasi. Padahal selama ini kinerja investasi tidak jelek-jelek amat."

    Berdasarkan pengamatan Faisal Basri, Presiden Jokowi  memang sudah lama mewacanakan penurunan tarif Pajak Penghasilan Badan. Salah satu tujuannya adalah untuk bersaing menyedot investasi dengan negara lain, misalnya Singapura.

    "Ternyata desakan Presiden benar-benar akan segera terwujud. Pada tahun 2023 nanti pajak penghasilan badan bagi perusahaan terbuka diturunkan menjadi 17 persen," ujar Faisal.

    Apabila ditilik lebih dalam, Faisal menilai wajar jika negara atau perekonomian kecil seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, Macau, dan Timor-Leste mengenakan tarif pajak badan sangat rendah. Sebab, pasar negara-negara tersebut sangat kecil dan tidak memiliki kekayaan sumber daya alam.

    Bukti paling meyakinkan, tutur Faisal, adalah justru investasi dari Singapura paling besar di Indonesia karena pasar Indonesia sedemikian besar. "Penduduk Indonesia 48 kali lipat dari penduduk Singapura, mereka tidak memiliki lahan untuk berkebun, sehingga melakukan investasi di perkebunan kelapa sawit," kata dia.

    Dalam lima tahun terakhir pun Faisal melihat investasi Singapura di Indonesia selalu paling besar dengan sumbangan reratanya lebih dari seperempat keseluruhan penanaman modal asing di Indonesia. Faktor pendorong lainnya adalah tenaga kerja Indonesia melimpah. Secara angka, angkatan kerja Indonesia 39 kali lebih banyak dari Singapura. Ditambah lagi persentase penduduk usia tua Singapura dua kali lebih banyak dari Indonesia.

    Sebelumnya, Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo menargetkan omnibus law perpajakan bisa rampung dan efektif berlaku pada 2021. Dia mengatakan pemerintah saat ini dalam tahap pembahasan rancangan undang-undang omnibus law bersama Dewan Perwakilan Rakyat.

    Dia memastikan bersamaan dengan pembahasan di parlemen, pemerintah juga menyiapkan infratruktur pendukung. Menurut dia, omnibus law perpajakan berupaya memperkuat basis pajak dan mendorong perekonomian dengan kerangka regulasi yang baru. Selain itu, kata dia, nantinya akan ada penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan dari 25 persen menjadi 20 persen pada 2021.

    CAESAR AKBAR | HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.