Bahan Baku Menipis, Industri Kertas Kembang Kempis

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah murid membuat lukisan diatas kertas daur ulang yang terbuat dari puntung rokok di pabrik daur ulang di Votorantim, Sao Paulo, Brasil, 7 Maret 2017. REUTERS/Paulo Whitaker

    Sejumlah murid membuat lukisan diatas kertas daur ulang yang terbuat dari puntung rokok di pabrik daur ulang di Votorantim, Sao Paulo, Brasil, 7 Maret 2017. REUTERS/Paulo Whitaker

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyatakan bahwa stok bahan baku industri kertas kian menipis. Diperkirakan, bahan baku industri kertas akan mulai langka pada Maret 2020, sehingga harganya menjadi sangat tidak kompetitif.

    Direktur Eksekutif APKI Liana Bratasida mengatakan, scrap kertas impor menopang sekitar 50 persen dari kebutuhan bahan baku pabrikan kertas. Namun sejak awal 2020,  asosiasi mencatat tidak ada pemesanan scrap kertas di pasar global oleh pabrikan lokal.

    "Dengan tidak ada impor [skrap kertas] harga [bahan baku lokal] melonjak selangit sekarang. Kalau industri bahan baku kertas lokal sehat, utilitas akan di level 50 persen [pada akhir kuartal I/2020]," katanya kepada Bisnis.com, Kamis 13 Februari 2020.

    Seperti diketahui, pemerintah telah menginstruksikan agar impuritas scrap kertas impor berada di level 2 persen. Namun demikian, ujar Liana, minimnya aturan tertulis mengenai instruksi tersebut membuat lembaga surveyor enggan memeriksa kontainer scrap kertas impor.

    Oleh karena itu, Liana berujar harus ada revisi pada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 92/2019 tentang Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun sebagai Bahan Baku Industri. Menurutnya, revisi tersebut paling lambat rampung sebelum akhir bulan ini lantaran proses impor skrap kertas membutuhkan waktu sekitar 3 bulan.

    Adapun, Institute of Scrap Recycling Industries (ISRI) telah memilah kertas setidaknya menjadi empat jenis yakni kertas kardus bekas (OCC), majalah bekas (OMP), kertas putih bertulisan (SWL), dan kertas hasil rumah tangga (Mixed Paper). Atas kategori tersebut, Liana mengatakan masing-masing jenis kertas memiliki ketentuan kadar impuritas yang berbeda.

    "Kami sudah presentasi ke pemerintah, harus ada best practice, kami kan berdagang internasional. Paling tidak [tingkat impuritas] ikut dengan ketentuan ISRI dan jangan digeneralisasi [semua jenis kertas]," katanya.

    Liana menyatakan rendahnya ketersediaan bahan baku tersebut memaksa pabrikan menurunkan volume produksi sejak kuartal III/2019. Alhasil, lanjutnya, kini mulai marak produk kertas impor yang mulai memasuki pasar lokal.

    Liana mengamati bahwa produk yang dimasuki oleh produk impor adalah kemasan kertas. Adapun, asosiasi mencatat kemasan berbahan kertas berkontribusi sekitar 28 persen dari total kemasan yang beredar.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.