Kemendag: Larangan Impor Hewan Hidup dari Cina Hanya Sementara

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang perempuan menunjukan dua buah gantungan plastik yang berisi kura-kura hidup, yang dijual di sebuah pusat perbelanjaan di Beijing, Cina (7/3). Kantung plastik berisi hewan tersebut diisi oksigen dan cairan nutrisi, yang bisa menjaga hewan-hewan kecil tersebut hidup selama dua bulan. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Seorang perempuan menunjukan dua buah gantungan plastik yang berisi kura-kura hidup, yang dijual di sebuah pusat perbelanjaan di Beijing, Cina (7/3). Kantung plastik berisi hewan tersebut diisi oksigen dan cairan nutrisi, yang bisa menjaga hewan-hewan kecil tersebut hidup selama dua bulan. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Perdagangan menghentikan impor hewan hidup dari Cina menyusul merebaknya virus Corona. Namun pelarangan itu hanya bersifat sementara hingga virus Corona mereda.

    "Menyikapi merebaknya wabah virus corona di Cina, Pemerintah Indonesia telah menetapkan pelarangan untuk impor jenis binatang hidup yang berasal dari Cina atau transit di Cina ke dalam wilayah Indonesia. Namun pelarangan tersebut sifatnya sementara (temporary) sampai wabah virus corona mereda," kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, melalui siaran pers 13 Februari 2020.

    Penghentian impor sementara yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 10 Tahun 2020 tentang Larangan Impor Sementara Binatang Hidup dari Cina, telah diberlakukan sejak 7 Februari 2020.

    Agus mengatakan, bahwa beleid tersebut merupakan tindakan tegas dalam merespons kondisi darurat kesehatan publik secara global akibat penyebaran wabah virus corona yang berasal dari Wuhan. Ia juga meminta, penghentian impor tersebut tidak berlaku untuk semua produk.

    Adapun jenis binatang yang dilarang importasinya terdiri dari 53 pos tarif barang, antara lain kuda, keledai, bagal, dan hinnie hidup; binatang hidup jenis lembu; babi hidup; biri-biri dan kambing, hidup; unggas hidup, yaitu ayam dari spesies gallus domesticus, bebek, angsa, kalkun dan ayam guinea; serta binatang hidup lainnya yang menyusui.

    Selain itu, larangan impor juga termasuk pada binatang hidup yang ada pada komedi putar, ayunan, galeri tembak dan permainan taman hiburan lainnya; dan binatang hidup pada sirkus keliling dan travelling menagerie; serta teater keliling.

    Agus menegaskan, importir wajib mengekspor kembali ke negara asal atau memusnahkan binatang hidup yang dilarang tersebut yang tiba di pelabuhan Indonesia saat Permendag ini berlaku.

    Waktu ketibaan binatang hidup di pelabuhan Indonesia ini dibuktikan dengan tanggal pengajuan dokumen pemberitahuan pabean dalam rangka impor berupa dokumen BC 1.1, BC 2.0, BC 2.1, BC 2.2, BC 2.3, BC 1.6, PPFTZ-01, atau consignment note.

    "Biaya atas pelaksanaan ekspor kembali atau pemusnahan adalah tanggung jawab Importir," ucap Agus.

    Bagi importir yang tidak melaksanakan kewajiban mengekspor kembali ke negara asal atau memusnahkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari, akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Permendag Nomor 10 Tahun 2020 tersebut merupakan implementasi hasil rapat koordinasi tingkat menteri bidang perekonomian yang dilaksanakan pada 3 Februari 2020 di Jakarta.

    Permendag ini juga merupakan bentuk pelindungan kesehatan manusia dan hewan yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan sejalan dengan Article XX General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1994 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

    Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan penyebaran virus corona yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan publik yang menjadi perhatian internasional.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Untung Buntung Status Lockdown akibat Wabah Virus Corona

    Presiden Joko Widodo berharap pemerintahannya memiliki visi dan kebijakan yang sama terkait Covid-19. Termasuk dampak lockdown pada sosial ekonomi.