Jetro Beberkan Sebab Investasi Sektor Digital Jepang Sulit Masuk

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memperlihatkan proses cetak menggunakan mesin digital saat pameran World of Digital Print Expo 2015 di Jakarta, 22 April 2015. Pameran tersebut mempromosikan produk teknologi digital printing dan pendukungnya, antara lain Textile Printing Apparel, Garment Printing, dan Digital Label Printing. Tempo/Tony Hartawan

    Pekerja memperlihatkan proses cetak menggunakan mesin digital saat pameran World of Digital Print Expo 2015 di Jakarta, 22 April 2015. Pameran tersebut mempromosikan produk teknologi digital printing dan pendukungnya, antara lain Textile Printing Apparel, Garment Printing, dan Digital Label Printing. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, JakartaKurangnya sumber daya manusia yang handal di teknologi digital menjadi penghambat utama masuknya investasi perusahaan Jepang ke Indonesia. Hal tersebut adalah kesimpulan dari hasil survei Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang alias Jetro pada tahun 2019.

    "Dari pertanyaan yang berkaitan dengan hambatan investasi di sektor digital, perusahaan Jepang di Indonesia yang menjawab tidak memiliki engineer yang sumber daya manusia handal dalam teknologi digital adalah sebesar 33,5 persen," ujar Direktur Senior Jetro Jakarta Wataru Ueno di kantornya, Selasa, 11 Februari 2020.

    Angka tersebut adalah lebih tinggi dibanding rata-rata 28,8 persen dari total seluruh negara responden. Kendati demikian, Wataru mengatakan persoalan ini juga menjadi hambatan terbesar di negara-negara responden lainnya.

    Selain mengenai sumber daya manusia sektor digital, hambatan bagi masuknya investasi di sektor digital adalah rendahnya pemahaman mengenai investasi untuk sektor digital di masing-masing perusahaan dan defisiensi informasi mengenai teknologi digital yang tersedia.

    Dalam hal teknologi, Jetro juga melakukan survei terkait penggunaan teknologi digital dalam bisnis perusahaan Jepang di setiap negara. Mengingat penggunaan teknologi tersebut dinilai dapat mendongkrak produktivitas di tengah lonjakan biaya tenaga kerja.

    Dari survei tersebut, tampak bahwa 18,5 persen perusahaan manufaktur Jepang di Indonesia relatif banyak telah menggunakan robot dalam produksinya. Selain itu, ada 72,5 persen perusahaan Jepang di Tanah Air yang menjawab sudah atau sedang mempertimbangkan bekerja dengan sistem otomasi dan melakukan penghematan tenaga kerja, serta menggunakan robot di lini produksi.

    Survei Jetro dilakukan dengan metode kuesioner pada periode 26 Agustus - 24 September 2019. Adapun responden survei meliputi seluruh perusahaan dan kantor cabang serta perwakilan perusahaan kepang dengan rasio minimal investasi langsung maupun tidak langsung dari Jepang sebesar 10 persen yang beroperasi di 20 negara.

    Jumlah jawaban valid yang diperoleh dalam pengambilan survei Jetro ini adalah 5.697 jawaban dari total 13.458 perusahaan responden. Adapun untuk Indonesia ada 614 jawaban valid dari total 1.726 perusahaan responden.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara