Jadi Penggerak Ekonomi, ikan Hias Yogya Bidik Pasar Ekspor

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ikan hias yang dijajakan pedagang di Pasar Jatinegara, Jakarta, 30 Juli 2015. Indonesia mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preference (GSP) untuk ekspor ikan ke Amerika Serikat. Salah satu produk ikan yang mendapat GSP adalah ikan hias, yang mendapatkan penurunan tarif bea masuk sebesar 0,5 persen sampai 15 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ikan hias yang dijajakan pedagang di Pasar Jatinegara, Jakarta, 30 Juli 2015. Indonesia mendapatkan kembali fasilitas Generalized System of Preference (GSP) untuk ekspor ikan ke Amerika Serikat. Salah satu produk ikan yang mendapat GSP adalah ikan hias, yang mendapatkan penurunan tarif bea masuk sebesar 0,5 persen sampai 15 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Budidaya perikanan, termasuk ikan hias, di Yogya diprediksi terus bertumbuh seiring tingginya permintaan.

    Kabupaten Bantul dan Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi poros poros penggerak budidaya perikanan itu.

    "Saat ini di Bantul sudah terdapat 5.176 kelompok pembudidaya ikan dan sebanyak 510 nelayan yang tersebar di pantai selatan," ujar Bupati Bantul Suharsono di sela dialog bersama Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Lestari, Banguntapan, Bantul, Selasa 11 Februari 2020.

    Suharsono mengungkap menggeliatnya sektor budidaya perikanan makin kentara saat kelompok kelompok mendapat bantuan signifikan. Ia menyebut tahun 2018/2019 misalnya pemerintah provinsi memberikan bantuan hibah pengembangan budidaya perikanan Pokdakan Mina Lestari di Wirokerten, Banguntapan Bantul hingga Rp 1,5 miliar.

    Sehingga di wilayah itu kelompok budidaya berhasil melipatkan produksinya.

    "Bantuan itu menyasar untuk kelengkapan sarana prasarana peralatan tangkap," ujar Suharsono.

    Lurah Wirokerten Banguntapan, Kabupaten Bantul Rakhmawati Wijayaningrum menjelaskan saat ini jumlah anggota pokdakan di desanya ada sebanyak 59 orang.

    Pokdakan itu mengelola 24 jenis kolam dengan luasan bervariasi untuk budidaya ikan nila dan ikan lele di atas tanah milik kas desa seluas empat hektar.

    Adapun di sisi utara yakni di Kabupaten Sleman jenis budidaya yang hidup salah satunya ikan hias koi. Para pembudidaya membentuk sentra sentra. Salah satunya Pasar Koi Jogja yang berada di Jalan Wonosari Km.9, Berbah, Sleman.

    Pimpinan Pasar Koi Jogja, Suryo Jatmiko mengungkapkan konsep sentra koi yang mereka garap basisnya kemitraan secara swasembada.

    Tak hanya mengejar kuantitas, Pasar Koi Jogja mengejar kualitas standar yang telah ditentukan. Dengan standar tersebut, nilai Koi sudah ditentukan dan tidak merusak pasar.

    “Kualitas dan kuantitas Koi kami pantau. Banyak mitra yang sudah berjalan dengan baik sesuai harapan. Kami tinggal mengendalikan perang harga saja, agar tidak terjadi selisih harga yang terlalu tinggi,” ujar Suryo. 

    Saat ini, Pasar Koi Jogja sudah memiliki mitra sebanyak 22 mitra. Mitra-mitra tersebut dipilih melalui seleksi ketat dan hanya dipercayakan kepada mitra yang serius untuk budidaya.

    Saat ini menurut Suryo, pihaknya mampu menghasilkan sejumlah 2.500 anakan setiap bulan. Jumlah itu masih jauh dari target swasembada yang berjumlah 5.000 ekor anakan. Setelah tercapai, Suryo menyebutkan akan merambah ekspor untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

    Wakil Gubernur DIY Paku Alam X tak menampik sektor perikanan memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih masif dengan teknologi perikanan.

    Menurut Paku Alam meningkatkan sumber daya ikan, diperlukan pengembangan teknologi induk dan bibit unggul, inovasi wadah, sistem budidaya, pengendalian penyakit ikan dan lingkungan.

    Paku Alam mendorong petani Koi bisa memaksimalkan produksinya. Sebab ikan koi sekali bertelur, hanya sebanyak 10 persen saja bibit yang memiliki kualitas unggul. Paku Alam meminta agar 90 persen sisanya bisa dimanfaatkan. Seperti dijadikan sebagai olahan pakan ikan, ataupun bisa sebagai ikan konsumsi.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.