Ekspor ke Cina Tertekan Virus Corona, Konsumsi Domestik Digenjot

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengoperasikan kendaraan untuk menyemprtokan cairan desinfektan setelah meluasnya wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, China 10 Februari 2020. Korban meninggal akibat terinfeksi virus corona baru tercatat mencapai 1,013 orang. China Daily via REUTERS

    Pekerja mengoperasikan kendaraan untuk menyemprtokan cairan desinfektan setelah meluasnya wabah virus corona baru di Wuhan, provinsi Hubei, China 10 Februari 2020. Korban meninggal akibat terinfeksi virus corona baru tercatat mencapai 1,013 orang. China Daily via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pangsa pasar ekspor Indonesia ke Cina dipastikan bakal porak-poranda setelah negeri itu dihantam wabah virus corona. Karena itu, pemerintah diminta mengejar pertumbuhan ekonomi dengan menggenjot konsumsi domestik.

    Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Lana Soelistianingsih mengatakan,  memacu konsumsi domestik adalah satu-satunya cara Indonesia untuk dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen. "Saya kira pemerintah harus mempercepat belanja sosial pada triwulan I/2020 agar masyarakat memiliki tambahan pendapatan untuk konsumsi Puasa dan Lebaran. Jika salah langkah, pertumbuhan ekonomi bisa drop di bawah 5 persen," kata Lana ketika dihubungi Bisnis, Selasa 11 Februari 2020.

    Sebelumnya, Lana telah melihat adanya sinyal perlambatan konsumsi rumah tangga pada akhir 2019. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), capaian konsumsi rumah tangga Indonesia pada triwulan IV/2019 hanya tumbuh 4,97 persen. Realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,08 persen (yoy). Padahal, struktur produk domestik bruto (PDB) menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku pada 2019 tidak menunjukkan perubahan yang berarti.

    Menurut Lana, perekonomian Indonesia masih didominasi komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 56,62 persen; komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 32,33 persen; komponen ekspor barang dan jasa 18,41 persen; komponen konsumsi pemerintah 8,75 persen; komponen perubahan inventori besar 1,43 persen; komponen lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) 1,3 persen. 

    Wabah virus corona di Cina sendiri, tutur Lana, berpotensi menekan kinerja ekspor dan impor pada tahun ini. Pasalnya, Cina merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di samping Amerika Serikat dan Singapura.

    "Kalau belanja sosial bisa dicairkan di triwulan I dan II/2020 saya memprediksi pertumbuhan dapat terjaga di level 5 persen. Saya khawatir apabila pemerintah tidak dapat memacu ekonomi di semester I/2020 akan membuat capaian di bawah 5 persen hingga akhir tahun," Lana menambahkan.

    Sebelumnya, Direktur Pelaksana Bank Dunia Mari Elka Pangestu memproyeksi virus corona berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai kurang dari 5 persen. Padahal, berdasarkan APBN 2020, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen.

    Setiap perlambatan ekonomi Cina sebesar 100 basis poin (bps), Indonesia akan terdampak sebesar 30 bps. Menurut Mari, para ekonom dunia telah memproyeksikan bahwa virus corona akan membuat pertumbuhan ekonomi Cina melambat 100 bps hingga 300 bps.

     BISNIS

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara