Virus Corona Meluas, Harga Daging Babi di Cina Meroket 116 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria memilih babi panggang yang dijual dijalan untuk persiapan Tahun Baru Imlek di Phnom Penh, Kamboja, 4 Februari 2019. Warga Kamboja mempersiapkan daging babi panggang untuk sajian pada perayaan Imlek. REUTERS/Samrang Pring

    Seorang pria memilih babi panggang yang dijual dijalan untuk persiapan Tahun Baru Imlek di Phnom Penh, Kamboja, 4 Februari 2019. Warga Kamboja mempersiapkan daging babi panggang untuk sajian pada perayaan Imlek. REUTERS/Samrang Pring

    TEMPO.CO, Jakarta - Di tengah meluasnya penyebaran virus corona di berbagai negara, harga daging babi di Cina mencatat rekor tertingginya. Data Biro Statistik Nasional (NBS) Cina yang dirilis Selasa 11 Februari 2020 menunjukkan, harga daging babi telah meroket 116 persen pada Januari 2020.

    Melambungnya harga daging babi ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Desember 2019 saja, harga daging babi telah melonjak hampir dua kali lipat atau 200 persen.

    Kenaikan harga grosir daging babi ini didorong oleh pasokan yang menipis, seiring wabah flu babi Afrika dan pembatasan transportasi akibat wabah virus corona. Sebelumnya, pada Senin kemarin, NBS melaporkan bahwa harga hampir semua produk konsumsi di Cina meroket tajam ke kisaran tertinggi dalam delapan tahun akibat merebaknya virus corona.

    Wabah virus corona yang telah merenggut lebih dari 1.000 nyawa tersebut memicu penutupan jaringan transportasi di seluruh negeri sehingga membuat kemungkinan kenaikan harga berlanjut dalam beberapa bulan ke depan. Padahal, selain karena wabah virus corona, harga pasti cenderung naik tajam akibat lonjakan permintaan di Tahun Baru Imlek.

    “Kami memperkirakan harga daging babi akan tetap kuat, setidaknya pada paruh pertama tahun ini karena jumlah babi telah turun setelah dipotong sebelum tahun baru [Imlek],” ujar Lin Guofa, analis senior di Bric Agriculture Group, sebuah konsultan pertanian yang berbasis di Beijing.

    Menurut Lin, penyetokan ulang yang buruk awal tahun ini dapat menyebabkan penurunan dalam produksi unggas dalam negeri, yang seringkali digunakan untuk menggantikan daging babi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.