Bahlil Lahadalia Tawarkan Investasi 10 Bali Baru ke Australia

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia usai konferensi pers di kantornya di Jakarta Selatan, Kamis, 31 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia usai konferensi pers di kantornya di Jakarta Selatan, Kamis, 31 Oktober 2019. Tempo/Fajar Pebrianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menawarkan peluang investasi di 10 Bali Baru saat bertemu Pemerintah Australia.

    Menurut Bahlil dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin, 10 Februari 2020, Indonesia tengah mengembangkan pusat-pusat wisata di luar Bali atau 10 New Bali, dengan Labuan Bajo dan Mandalika dinilai potensial bagi investor di "Negeri Kangguru" itu.

    "Turis Australia kan banyak yang ke Bali. Nah kita minta pengusaha Australia untuk mengembangkan kedua wilayah tersebut supaya turis-turis dari sini enggak hanya ke Bali, tapi juga ke Mandalika dan Labuan Bajo," katanya dalam kunjungan kerjanya ke Australia.

    Selain di bidang pariwisata, Bahlil mendorong kerja sama investasi di bidang pendidikan. Australia telah memiliki banyak lembaga pendidikan kelas dunia, khususnya dalam industri pariwisata dan perawatan kesehatan.

    Hal ini bisa dikerjasamakan dengan Indonesia untuk membangun pusat-pusat wisata 10 New Bali. Dengan adanya lembaga pendidikan tinggi/vokasi yang terstandarisasi dari Australia, tenaga kerja Indonesia pun diharapkan bisa mendapat sertifikasi siap kerja di dunia internasional.

    Peningkatan kerja sama dan investasi menjadi tujuan diratifikasinya Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Peningkatkan kerja sama ekonomi itu didorong untuk menjadikan kedua negara economic powerhouse di wilayah Asia Pasifik.

    Di samping itu, kerja sama tersebut memberikan akses pasar lebih luas bagi kedua negara untuk menjadi bagian dari rantai pasok global. Dalam hal ini, posisi Indonesia yang strategis meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi dari negara lain. Indonesia juga dinilai dapat menjadi hub produksi dengan pasokan dari Australia untuk diekspor ke wilayah lain, seperti Timur Tengah.

    Sementara itu, Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham juga menyampaikan bahwa ada pengusaha Australia yang berminat untuk ikut mengembangkan ibu kota negara, khususnya di bidang infrastruktur pendukung dan disambut hangat oleh pemerintah Indonesia.

    Menanggapi minat tersebut, Bahlil mengatakan pemerintah Indonesia akan mempercepat proses investasi dengan Omnibus Law yang tengah disusun.

    "Kita punya Omnibus Law yang bisa mempercepat proses investasi. Ini yang kami tawarkan kepada mereka. Melalui Omnibus Law, segala perizinan terkait investasi dan insentif fiskal akan dikeluarkan oleh BKPM," kata Bahlil.

    Dalam kurun waktu 2015-2019, Australia baru berinvestasi sebanyak US$ 1,8 miliar yang berada di peringkat 12 asal negara investor di Indonesia.

    Sektor yang mendominasi adalah pertambangan (44,7 persen), industri logam tidak termasuk permesinan dan peralatan industri (11,3 persen) serta perkebunan dan peternakan (9,4 persen). Sementara, lokasi investasi Australia terfokus di Kalimantan (23,5 persen) dan Sumatera (23,1 persen).

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.