Virus Corona, Pemerintah Bakal Pulangkan Lagi Pelajar dari Cina

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, saat menghadiri KTT OKI di Jeddah, Arab Saudi, 3 Februari 2020.[Kemenlu RI]

    Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar, saat menghadiri KTT OKI di Jeddah, Arab Saudi, 3 Februari 2020.[Kemenlu RI]

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan pemerintah bakal memulangkan lagi beberapa warga negara Indonesia dari Cina ke Tanah Air. Pemulangan itu berkaitan dengan penyebaran Virus Corona di Negeri Tirai Bambu.

     

    "Yang mau kami lakukan justru ada beberapa lagi pelajar kita yang akan pulang," ujar Mahendra di Kantor Kementerian Maritim dan Investasi, Jakarta, Senin, 10 Februari 2020. Ia tidak menyebut rincian jumlah pelajar yang akan dipulangkan tersebut. Namun dia berujar mereka akan dipulangkan dari beberapa provinsi di Cina.

     

    Sebelumnya, pemerintah telah mengevakuasi sekitar 245 warga negara Indonesia dari Provinsi Hubei, Cina, pada awal Februari 2020. Warga yang telah dievakuasi pun dikarantina sementara di wilayah Natuna selama sekitar 14 hari untuk diobservasi. Saat ini, pemerintah juga masih menutup penerbangan dari dan menuju ke Cina hingga waktu yang belum ditentukan. 

     

    Jumlah korban meninggal virus Corona di Cina daratan telah meningkat menjadi 811 orang pada Ahad, 9 Februari 2020, dan angka melampaui jumlah korban meninggal SARS pada 2002-2003.

     

    Komisi Kesehatan Nasional Cina, seperti dilaporkan New York Times, 9 Februari 2020, menuturkan jumlah kasus meningkat menjadi 37.198 kasus infeksi. Sebanyak 89 kematian dan 2.656 kasus penularan baru dilaporkan. Mayoritas kasus terjadi di Provinsi Hubei, pusat penyebaran virus Corona.

     

    Epidemi SARS, yang juga dimulai di Cina, menewaskan 774 orang di seluruh dunia. Hanya ada dua kematian yang dikonfirmasi dari virus Corona terjadi di luar Cina daratan: satu di Hong Kong dan satu di Filipina.

     

    Banyak dokter percaya bahwa kematian dan infeksi dari epidemi saat ini di Cina tidak dihitung karena fasilitas pengujian di rumah sakit dan laboratorium berada di bawah tekanan yang parah.

     

    Jumlah kasus baru yang dikonfirmasi di negara itu telah stabil dalam beberapa hari terakhir, tetapi pejabat Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan agar tidak terlalu banyak membaca angka-angka itu, mengatakan bahwa Wuhan dan Hubei masih di tengah-tengah "wabah yang sangat intens."

     

    "Sangat, sangat dini untuk membuat prediksi," kata Dr. Michael Ryan, direktur program eksekutif kedaruratan kesehatan WHO. "Ini masih merupakan wabah yang sangat, sangat intens di Wuhan dan Hubei."

     

    CAESAR AKBAR | EKA YUDHA SAPUTRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.