Dirut Taspen Bantah Tunjangan Pensiun PNS Telat Dibayarkan

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konferensi Pers paparan kinerja 2019 bersama manajemen PT Taspen (Persero), diantaranya ada Direktur Utama Taspen A.N.S Kosasih, dan Komisaris Utama Franky Sibarani di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDi

    Konferensi Pers paparan kinerja 2019 bersama manajemen PT Taspen (Persero), diantaranya ada Direktur Utama Taspen A.N.S Kosasih, dan Komisaris Utama Franky Sibarani di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Taspen (Persero) Antonius Steve Kosasih membantah isu keterlambatan pembayaran tunjangan pensiun pegawai negeri sipil (PNS). Ia menyebutkan, kalaupun ada pihak yang belum menerima tunjangan pensiun PNS karena adanya persoalan autentifikasi yang tidak tuntas.

    Steve menyebutkan tiap penerima tunjangan harus melakukan autentikasi untuk memastikan yang bersangkutan masih berhak menerima dana tersebut. Hal ini wajib dilakukan karena  Taspen tidak dapat sepenuhnya memastikan setiap penerima apakah pensiunan masih hidup atau tidak.

    "Sebenarnya tidak ada pensiunan yang telat menerima pembayaran, tapi semua pensiunan itu perlu melakukan autentifikasi," ujar Steve di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jakarta, Jumat, 7 Februari 2020.

    Lebih jauh Steve menjelaskan autentifikasi salah satunya dapat dilakukan dengan memberikan Surat Pengesahan Tanda Bukti Diri (SPTB). Selain itu autentifikasi juga dapat dilakukan secara dalam jaringan atau daring (online).

    Autentifikasi ini harus dilakukan secara periodik selama tiga bulan sekali oleh para penerima tunjangan agar dana pensiunannya dapat dicairkan dengan semestinya. Namun, sayangnya sering kali para penerima tunjangan lupa melakukannya sehingga dana tunjangan tidak dapat dicairkan.

    Steve menyatakan, penyetopan pembayaran tunjangan merupakan cara paling ampuh untuk mengetahui pensiunan PNS masih hidup atau tidak. "Kalau masih hidup, pasti komplain. Kasih dong bukti kalau masih hidup, kami (Taspen) kan enggak tahu," katanya.

    Para penerima tunjangan juga diminta tidak perlu khawatir tentang kesediaan dana untuk pembayaran tunjangan pensiun tersebut. Dia memastikan perseroan memiliki likuiditas yang cukup untuk membayarkan kebutuhan pembayaran tunjangan jangka pendek.

    Steve sebelumnya memastikan sebagian besar portofolio investasi perseroannya ditempatkan pada instrumen yang sangat aman. Hal ini disampaikan menanggapi kasus yang tengah membelit asuransi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    "Mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen  yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang dan deposito sebesar 86,2 persen dari total portofolio," kata Steve saat paparan kinerja Taspen 2019 di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020.

    Sepanjang 2019, kata Steve, perseroan berhasil mendapatkan imbal hasil dari investasi sebesar Rp 9,11 triliun. Angka ini setara dengan pertumbuhan 19,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

    Lebih jauh Steve menjelaskan, bahwa porsi investasi perseroannya pada surat utang atau obligasi yakni sebesar 67,5 persen. Lalu sebanyak 37 persen investasi ditempatkan di Surat Utang Negara (SUN), kemudian 11,2 persen di Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), 16,1 persen dialihkan ke obligasi korporasi, 1,9 persen medium term notes (MTN) milik BUMN, 1 persen di KIK-EBA BUMN, dan terakhir 0,2 persen berada di Sukuk Korporasi.

    “Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” ucap Steve.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wabah Virus Corona Datang, 13.430 Narapidana Melenggang

    Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan pembebasan sejumlah narapidana dan anak demi mengurangi penyebaran virus corona di penjara