BI Longgarkan Aturan LTV, Industri Properti Masih Lesu

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas menawarkan properti pada pengunjung dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, 16 November 2019. Pameran ini digelar dalam rangka ulang tahun KPR ke-43. TEMPO/Fajar Januarta

    Petugas menawarkan properti pada pengunjung dalam acara Indonesia Property Expo (IPEX) 2019 di JCC, Senayan, Jakarta, 16 November 2019. Pameran ini digelar dalam rangka ulang tahun KPR ke-43. TEMPO/Fajar Januarta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan Bank Indonesia atau BI yang melonggarkan rasio loan to value (LTV) atau uang muka kredit properti sejak Desember 2019 dinilai masih belum terlalu efektif untuk menggairahkan industri. Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo menyebutkan hingga kini pengaruh beleid itu belum terlalu terasa. 

    Arief menjelaskan, beberapa pengembang masih ada yang tetap menentukan batas minimum uang muka kepada para pembeli. Padahal kebijakan pelonggaran uang muka itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat membeli rumah. 

    "Beberapa kali pemerintah mengurangi uang muka (untuk pembiayaan perumahan), tetapi itu tidak efektif. Kebijakan belum bisa untuk mendorong permintaan," ujar Arief, Kamis,  6 Februari 2020. 

    Lebih jauh, kata Arief, secara umum para pengembang masih menentukan batas minimum uang muka sebesar 5 persen, bahkan untuk kredit rumah pertama. "Hal tersebut membuat batasan uang muka yang lebih tinggi untuk kredit rumah kedua dan selanjutnya." 

    Dengan batasan uang muka minimum 5 persen, menurut Arief, segmen pasar pengguna (end user) atau milenial masih merasa sangat keberatan. Cicilan per bulan yang dirasa masih sangat tinggi juga semakin membebani para calon pembeli rumah. Dengan kondisi tersebut, dia menuturkan tak sedikit segmen milenial yang menyiasatinya dengan memilih tinggal di hunian berkonsep co-living.

    BI sebelumnya memutuskan untuk merelaksasi LTV maupun financing to value (FTV) kredit properti dan uang muka kendaraan bermotor. BI mengenakan rasio LTV yang lebih rendah untuk pembiayaan properti dan kendaraan bermotor yang ramah lingkungan.

    Bank Indonesia juga mengganjar tambahan keringanan rasio LTV dan FTV kredit atau pembiayaan properti dan uang muka kendaraan bermotor ramah lingkungan masing-masing sebesar 5 persen.

    Sebelumnya Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja memperkirakan bahwa kebijakan pelonggaran loan to value (LTV) yang diputuskan Bank Indonesia akan berimbas positif. Menurut dia, pelonggaran LTV ini akan dapat menggerakkan kredit di sektor properti.

    “LTV dapat mendorong kredit properti, (asalkan) yang penting daya beli masyarakatnya ada. LTV akan kami sesuaikan dengan profil kredit nasabah, sudah ada dukungan dari BI, akan disesuaikan dengan risk appetite masing-masing bank,” kata Jahja pertengahan September 2019 lalu.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.