Airlangga Pastikan Impor Suku Cadang Cina Tak Dihentikan

Ketua DPR Puan Maharani menerima kunjungan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly untuk membahas omnibus law di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 29 Januari 2020. TEMPO/Putri.

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan impor produk otomotif asal Cina tidak bakal dihentikan kendati tengah merebak Virus Corona di Negeri Tirai Bambu. Ia mengatakan penyetopan impor sementara itu bakal dilakukan hanya untuk barang konsumsi.

"(Untuk otomotif) enggak lah, spare part kan enggak ada yang makan," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin, 3 Februari 2020. Terkait daftar barang yang bakal dilarang impornya, tutur dia, akan difinalkan kembali dalam rapat esok hari. Sebab, keputusan itu memerlukan koordinasi beberapa lembaga, antara lain Kementerian Perdagangan, Bea Cukai, dan BPOM.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan kementeriannya masih mengkaji komoditas asal Cina apa saja yang bakal dihentikan sementara impornya, menyusul menyebarnya Virus Corona di Negeri Tirai Bambu.

"Ini masih persiapan agar tidak salah sasaran, karena ada produk yang mungkin belum tentu produk itu bawa virus, yang jelas sekarang berkaitan dengan hewan hidup," ujar Agus.

Ihwal produk pangan lainnya, selain hewan hidup, menurut Agus, masih akan dikaji lebih lanjut apakah bisa diperbolehkan atau dihentikan sementara. Ia mengatakan komoditas yang distop adalah yang berpotensi membawa Virus Corona.

Daftar komoditas asal Cina yang bakal dihentikan sementara impornya, tutur Agus, akan dibahas lebih lanjut dalam rapat lanjutan pada esok hari, Selasa, 4 Februari 2020. Rapat lanjutan juga akan memastikan kapan pemberhentian impor itu akan dilakukan.

"Kami koordinasikan dengan beberapa kementerian terkait, itu tidak hanya kementerian perdagangan, tapi juga Kementan, Kemenkeu, Bea Cukai, kemudian Kemenkes," kata dia. "Nah ini harus akurat karena pergerakannya sangat cepat dan ini butuh keputusan bersama yang akurat."

Di lain kesempatan, Agus berujar penghentian impor ini sejalan dengan adanya imbauan penghentian kebijakan bebas visa untuk warga negara Cina. Agus mengatakan saat ini penduduk Indonesia tercatat sebanyak 260 juta jiwa, sehingga pemerintah harus mengantisipasi penyebaran virus tersebut.

"Semua impor yang berkaitan dengan makanan dan minuman itu harus sementara disetop. Ya, bagi pengusaha harus terima, memang begitu kondisinya," ujar Agus.

Meski begitu, Agus mengatakan penyetopan impor produk Cina tersebut tidak dilakukan secara permanen. Moratorium impor berlangsung hingga kondisi wabah virus tersebut mereda. Dengan demikian, Kemendag juga belum dapat memastikan sampai kapan penyetopan tersebut akan berlangsung.

Merujuk dari kejadian serupa virus corona, Agus mengatakan pada kasus SARS terjadi hingga sembilan bulan lamanya. "Mudah-mudahan lebih cepat dari yang dulu. Kita berdoa semua. Ini kan keadaan force majeur. Kita harus hadapi dengan bijak. Dan secara detail bagaimana kasus ini kita tangani," ujar Agus. 

CAESAR AKBAR | LARISSA HUDA






Lithium Masih Impor, Bisakah Indonesia Jadi Produsen Baterai EV Terbesar?

22 menit lalu

Lithium Masih Impor, Bisakah Indonesia Jadi Produsen Baterai EV Terbesar?

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sempat mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia.


Duta Besar Gandi Sulistiyanto Dapat Penghargaan dari KOIMA

1 hari lalu

Duta Besar Gandi Sulistiyanto Dapat Penghargaan dari KOIMA

Gandi Sulistiyanto mendapat penghargaan dari Korean Importers Association (KOIMA) atas jasanya mempererat kerja sama impor Korsel dan Indonesia


Ahli Pengobatan China Sarankan Covid-19 Ganti Nama, Apa Alasannya?

1 hari lalu

Ahli Pengobatan China Sarankan Covid-19 Ganti Nama, Apa Alasannya?

Covid-19 telah bermutasi menjadi kasus dengan gejala ringan.


Menperin: Industri Farmasi Kuasai Pasar Domestik, Tapi 90 Persen Bahan Bakunya Masih Impor

1 hari lalu

Menperin: Industri Farmasi Kuasai Pasar Domestik, Tapi 90 Persen Bahan Bakunya Masih Impor

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan saat ini industri farmasi nasional telah menguasai pasar obat sekitar 89 persen.


Importir Buah Tropis Mengeluh Kesulitan Izin, Zulhas: Ngapain Jauh-jauh, di Dalam Negeri Ada

2 hari lalu

Importir Buah Tropis Mengeluh Kesulitan Izin, Zulhas: Ngapain Jauh-jauh, di Dalam Negeri Ada

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan atau Zulhas membeberkan hasil diskusinya dengan para importir buah tropis beserta pengacara Hotman Paris Hutapea.


Pemerintah Impor Beras 200 Ribu Ton, Zulhas: Saya Beri Izin 500 Ribu Ton, Bisa Dibeli Kapan pun

2 hari lalu

Pemerintah Impor Beras 200 Ribu Ton, Zulhas: Saya Beri Izin 500 Ribu Ton, Bisa Dibeli Kapan pun

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan alias Zulhas buka suara soal keputusan pemerintah mengimpor beras sebanyak 200 ribu ton bulan ini.


Kecewa Kebijakan Impor Beras, Serikat Petani: Jawa Timur Panen Raya Pertengahan Januari 2023

2 hari lalu

Kecewa Kebijakan Impor Beras, Serikat Petani: Jawa Timur Panen Raya Pertengahan Januari 2023

Serikat Petani Indonesia atau SPI menyayangkan langkah pemerintah mengimpor 200 ribu ton beras bulan ini.


Nilai Tukar Petani Dikhawatirkan Anjlok Setelah Pemerintah Impor Beras

2 hari lalu

Nilai Tukar Petani Dikhawatirkan Anjlok Setelah Pemerintah Impor Beras

Serikat Petani Indonesia atau SPI menanggapi soal impor 200 ribu ton beras yang siap dilakukan pemerintah bulan ini.


Uni Eropa Akan Cegah Impor Barang Terkait Deforestasi, Termasuk Minyak Sawit

2 hari lalu

Uni Eropa Akan Cegah Impor Barang Terkait Deforestasi, Termasuk Minyak Sawit

Uni Eropa menyetujui undang-undang baru untuk mencegah perusahaan menjual ke pasar Uni Eropa yang terkait dengan deforestasi


Airlangga Beberkan Prioritas RI 2023 di Tengah Gejolak Resesi: Pemulihan dan Ekonomi Digital

3 hari lalu

Airlangga Beberkan Prioritas RI 2023 di Tengah Gejolak Resesi: Pemulihan dan Ekonomi Digital

Airlangga hakulyakin ekonomi Indonesia tumbuh lebih pada tinggi tahun depan kendati negara dihadapkan ancaman badai resesi.