Luhut Minta Masa Transisi Blok Rokan Tak Sampai 2 Tahun

Reporter:
Editor:

Dewi Rina Cahyani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • VP Supply Export Operation PT. Pertamina (Persero), Agus Witjaksono (depan) dan rombongan meninggalkan terminal seusai meninjau proses lifting perdana minyak mentah (crude oil) di Terminal Oil Wharf No.1 Pelabuhan PT. CPI di Dumai, Riau, Selasa 15 Januari 2019. PT. Pertamina (Persero) melaksanakan lifting perdana minyak mentah jenis Sumatran Light Crude dan Duri Crude milik PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang dihasilkan dari Blok Rokan. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

    VP Supply Export Operation PT. Pertamina (Persero), Agus Witjaksono (depan) dan rombongan meninggalkan terminal seusai meninjau proses lifting perdana minyak mentah (crude oil) di Terminal Oil Wharf No.1 Pelabuhan PT. CPI di Dumai, Riau, Selasa 15 Januari 2019. PT. Pertamina (Persero) melaksanakan lifting perdana minyak mentah jenis Sumatran Light Crude dan Duri Crude milik PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) yang dihasilkan dari Blok Rokan. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

    Tempo.Co, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta masa transisi Blok Rokan di Riau dipercepat. Semula, masa transisi itu ditargetkan kelar 2 tahun dihitung sejak 2019.

    "Ya saya suruh masa transisi yang dua tahun itu dipercepat. Soal skema cost recovery, saya sudah minta dibicarakan supaya transisi tidak lama lagi," ujar Luhut di kantornya, Jumat petang, 31 Januari 2020.

    Pemerintah sebelumnya telah meminta pengalilhan Blok Rokan dari Chevron Pacific Indonesia ke PT Pertamina (Persero). Luhut menjelaskan, sebagai salah satu upaya percepatan, Pertamina tak perlu mengganti metode penerapan teknologi enhanced oil recovery atau EOR yang sebelumnya dipakai Chevron. Sebab, pergantian itu dinilai malah tak efktif.  "Biarkan pakai yang punya Chevron saja. Ngapain ganti-ganti?" tutur Luhut.

    Pada Juli 2019 lalu, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas telah menindaklanjuti upaya transisi Blok Rokan engan membentuk tim khusus. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan tim transisi perlu dibentuk agar tidak terjadi kemerosotan produksi yang terlalu jauh.

    "(Belajar) Dari Blok Mahakam, karena Blok Mahakam sudah terjadi transisi, lalu kurang begitu bagus. Turun produksinya begitu tajam," ujarnya, tahun lalu.

    Dwi ingin transisi tersebut tak kejadian seperti yang terjadi sebelumnya. Ia pun berharap SKK Migas bisa mendorong Pertamina dan Chevron agar terus berkomunikasi menemukan titik temu.

    Pada tahun lalu, cadangan Blok Rokan diperkirakan masih mencapai 1,5-2 miliar barel minyak. Dwi menjelaskan, cadangan minyak tersebut masih bisa diolah untuk 20 tahun yang akan datang.

    Blok Rokan merupakan blok minyak terbesar kedua di Indonesia setelah Banyu Urip, Blok Cepu, Bojonegoro, Jawa Timur. Blok seluas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan. Tiga lapangan di antaranya berpotensi menghasilkan minyak berkualitas baik, di antaranya lapangan Duri, lapangan Minas, dan dan lapangan Bekasap.

    Sejak beroperasi pada 1971 hingga 31 Desember 2017, total produksi di Blok Rokan mencapai 11,5 miliar barel minyak.

    FRANCISCA CHRISTY ROSANA | EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.