Kementan Minta UPT Investigasi Laporan Kasus Penyakit Satwa Liar

Ilustrasi sup kelelawar. elitereaders.com

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH)  Kementerian Pertanian (Kementan) I Ketut Diarmita mengatakan terus meningkatkan kewaspadaan penyebaran kasus pneumonia (radang paru-paru) akibat infeksi virus corona jenis baru (2019-nCoV) di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Ketut menuturkan berdasarkan analisa genetik dari virus tersebut menunjukkan adanya kedekatan kekerabatan dengan virus yang ditemukan pada kelelawar. 

 
"Sehingga, yang kami awasi adalah hewan dan produk hewan yang masuk ke negara kita dari negara outbreak (terjangkit)," ujar Ketut kepada Tempo, Kamis 30 Januari 2020. 
 
Namun demikian, Ketut berujar masih perlu investigasi lebih lanjut untuk dapat mengkonfirmasi bahwa hewan menjadi sumber penularan ke manusia. Sampai saat ini, kata dia, rute penularan yang dianggap paling berisiko adalah penularan dari manusia ke manusia. Meski begitu, Ketut mengatakan pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan penularan lewat media lainnya. 
 
"Untuk (pengawasan) dalam negeri kami melakukan monitoring dan surveilans secara berkala terhadap produk tersebut jangan sampai  tidak terdeteksi, kami akan koordinasikan dengan Kemenkes (kementerian kesehatan) dan karantina," ujar Ketut. 
 
Ketut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil investigasi sementara menunjukkan hasil analisa genetik virus 2019-nCoV memiliki kedekatan dengan penyebab penyakit pernafasan yang sebelumnya mewabah yaitu SARS (severe acute respiratory syndrome) dan MERS-CoV (Middle East respiratory syndrome-related coronavirus). Sehingga, kata dia, perlu diwaspadai adanya indikasi bahwa penyakit ini berpotensi zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. 
 
Sebagai kewaspadaan dini terhadap ancaman virus ini, Ketut meminta agar masyarakat segera melapor jika terjadi peningkatan kasus penyakit pada hewan dan satwa liar. Di sisi lain, Ketut juga meminta agar unit pelaksana teknis (UPT) Kementan yaitu Balai Veteriner di seluruh Indonesia untuk melakukan investigasi terhadap laporan kasus penyakit pada hewan dan satwa liar yang berkaitan dengan kasus dugaan infeksi 2019-nCoV pada manusia.  
 
Menurut dia, selama ini Balai Veteriner sudah memiliki kemampuan untuk deteksi virus-virus yang baru muncul seperti virus corona, karena secara aktif telah bekerjasama dengan sektor kesehatan dan satwa liar dalam melakukan surveilans di satwa liar yang kontak dengan ternak dan manusia melalui pendekatan one health. Kegiatan ini didukung oleh Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization(FAO) melalui fasilitas dari United States Agency for International Development (USAID). 
 
"Kami lakukan monitoring dan koordinasi terus menerus sampai kasus di negara lain dianggap aman," kata Ketut. 
 
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengatakan pengetatan pengawasan lalu lintas hewan dan produk hewan oleh Badan Karantina sudah dilaksanakan sejak tahun lalu karena kebetulan pemerintah juga sudah terancam penyakit demam babi afrika (ASF). Meski begitu, Fadjar mengatakan pengetatan juga dalam rangka mencegah penyebaran virus corona.
 
Adapun surveilans dan monitoring, ujar Fadjar, akan dilakukan oleh Balai Veteriner, Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian, dan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) bekerjasama dengan dinas setempat. "Untuk pengetatan pengawasan impor hewan dilakukan pemeriksaan dokumen penerbitan rekomendasi impor," ujar Fadjar. 
 





Buka Suara Perbedaan Data Beras dari Kementan dan Bulog, Ini Penjelasan Lengkap BPS

15 jam lalu

Buka Suara Perbedaan Data Beras dari Kementan dan Bulog, Ini Penjelasan Lengkap BPS

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono buka suara ihwal perbedaan data pasokan beras di Kementerian Pertanian (Kementan) dan di Perum Bulog.


Bapanas Sebut Pertimbangan Impor Beras Bukan Karena Persoalan Stok Tapi Harga

17 jam lalu

Bapanas Sebut Pertimbangan Impor Beras Bukan Karena Persoalan Stok Tapi Harga

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan pasokan cadangan beras di Bulog kini tersisa 514 ribu ton dan perlu ditambah hingga 1,2 juta ton sampai akhir tahun.


China Longgarkan Aturan Covid, di Shanghai Tes Corona Dihapus

22 jam lalu

China Longgarkan Aturan Covid, di Shanghai Tes Corona Dihapus

China mulai melonggarkan aturan soal Corona, namun kebijakan zero-Covid belum akan diambil.


Bulog Sudah Salurkan 970 Ribu Ton Beras, Harga di Pasar Masih Tembus Rp 13 Ribu per Kilogram

1 hari lalu

Bulog Sudah Salurkan 970 Ribu Ton Beras, Harga di Pasar Masih Tembus Rp 13 Ribu per Kilogram

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan hingga saat ini Perum Bulog sudah menyalurkan cadangan berasnya hingga 970 ribu ton di 514 kabupaten dan kota. Namun harga beras masih menembus angka Rp 12 ribu per kilogram.


Bapanas Pastikan Impor Beras Hanya Opsi Terakhir

1 hari lalu

Bapanas Pastikan Impor Beras Hanya Opsi Terakhir

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mamastikan impor beras adalah jalan terakhir yang akan dilakukan pemerintah.


Bapanas Ungkap Harga Beras Impor Jauh Lebih Murah Ketimbang Beras Lokal

1 hari lalu

Bapanas Ungkap Harga Beras Impor Jauh Lebih Murah Ketimbang Beras Lokal

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengungkapkan ada perbedaan harga yang jauh antara beras domestik ketimbang beras impor.


Kementan Klaim Berhasil Penuhi Permintaan Pasokan Beras, Tak Jadi lmpor?

5 hari lalu

Kementan Klaim Berhasil Penuhi Permintaan Pasokan Beras, Tak Jadi lmpor?

Sebelumnya, Bulog mengatakan stok domestik tipis dan tak dapat memenuhi target penyediaan cadangan beras.


Data Beras Kementan dan Bulog Berbeda? BPS Jelaskan Duduk Perkara: Sudah Clear

6 hari lalu

Data Beras Kementan dan Bulog Berbeda? BPS Jelaskan Duduk Perkara: Sudah Clear

BPS membeberkan bahwa pada dasarnya tidak ada yang berbeda soal data beras yang digunakan Kementan dan Bulog.


Belum Teken Izin Impor Beras, Mendag Masih Beri Waktu Bulog dan Kementan Cukupi Stok

6 hari lalu

Belum Teken Izin Impor Beras, Mendag Masih Beri Waktu Bulog dan Kementan Cukupi Stok

Zulhas menampik keputusan untuk impor beras dan belum mengeluarkan perizinan untuk kebijakan ini.


Kementan dan FAO Promosikan Produk Unggas Bebas Residu Antimikroba

11 hari lalu

Kementan dan FAO Promosikan Produk Unggas Bebas Residu Antimikroba

Resistensi antimikroba saat ini juga menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat karena bakteri resisten dapat menyebar melalui rantai makanan.