100 Hari Jokowi, Sandiaga: Masih Banyak Masalah Klasik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan mantan Ketua Umum HIPMI Sandiaga Uno (kiri) sebelum menghadiri acara pelantikan BPP HIPMI periode 2019-2022 di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020. Pelantikan ini mengusung tema peningkatan kualitas SDM pengusaha muda indonesia dalam menyambut era bonus demografi. ANTARA /Akbar Nugroho Gumay

    Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan mantan Ketua Umum HIPMI Sandiaga Uno (kiri) sebelum menghadiri acara pelantikan BPP HIPMI periode 2019-2022 di Jakarta, Rabu, 15 Januari 2020. Pelantikan ini mengusung tema peningkatan kualitas SDM pengusaha muda indonesia dalam menyambut era bonus demografi. ANTARA /Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Sandiaga Uno mengomentari ihwal kinerja 100 hari Presiden Joko Widodo atau Jokowi di bidang ekonomi. Dia mengatakan masih banyak data di bidang ekonomi yang simpang siur.

    "Ini harus kita selaraskan. Beri kesempatan sebetulnya, 100 hari terlalu short untuk tim baru ini," kata Sandiaga di Jakarta, Kamis, 30 Januari 2020.

    Kendati begitu, menurut calon wakil presiden ini, ada beberapa titik terang dalam perekonomian selama 100 hari pemerintahan Kabinet Indonesia Maju ini. Walaupun juga masih banyak pekerjaan rumah di pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin yang belum tersentuh sama sekali.

    Dari segi pertumbuhan ekonomi, kata Sandiaga, memang belum terlihat lebih baik seperti memang yang diprediksi banyak kalangan. Meski begitu, ada perbaikan di sisi neraca perdagangan.

    "Dan ini surprise juga. Ada titik terang di investasi ini surprise juga, tapi masih banyak permasalahan yang berkaitan dengan classical issue ya," kata Sandiaga.

    Isu-isu klasik yang dimaksud Sandiaga di antaranya soal reformasi birokrasi, di mana hal itu berencana akan diselesaikan dengan Omnibus Law. Tinggal, kata dia, masyarakat menunggu hasil-hasil konkret dari kebijakan baru itu.

    Oleh karena itu, Sandiaga kembali menyebutkan 100 hari tidak cukup untuk menilai satu kebijakan yang baru digulirkan. "Tinggal kita pastikan bahwa semua kebijakan itu terukur. Karena kita juga bicara konvensi data, ya dengan data yang bisa kita lihat sebagai hasil kinerja pemerintahan sekarang," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.