Permintaan SBN Ritel Diprediksi Tetap Tinggi

Reporter

Direktur Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuanan Luky Alfirman saat meluncurkan surat utang berharga negara (SBN) syariah seri Sukuk Tabungn ST-003 di Restoran Bunga Rampai, Jakarta Pusat, Jumat 1 Februari 2019. TEMPO/Dias Prasongko

TEMPO.CO, Jakarta - Tingkat permintaan investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Ritel diperkirakan akan tetap tinggi pada 2020.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan permintaan terhadap SBN Ritel sepanjang 2020 diproyeksikan akan tetap solid. Hal tersebut didukung oleh terus turunnya bunga deposito yang membuat kehadiran instrumen alternatif semakin dicari.

“Investor ritel memerlukan alternatif (investasi) dengan imbal hasil yang kompetitif. Kehadiran SBN Ritel dapat memenuhi permintaan ini,” katanya saat dihubungi Bisnis.com, Selasa, 28 Januari 2020.

Dia menuturkan, pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berpotensi meningkatkan permintaan terhadap SBN Ritel. Pada umumnya, SBN Ritel dicari investor dengan karakteristik berhati-hati dan menghindari risiko yang tinggi.

Selain itu, instrumen investasi jenis ini dicari karena imbal hasil (yield) yang lebih pasti dan dapat ditarik untuk kebutuhan jangka menengah. Berbeda dengan saham yang lebih diperuntukkan bagi investor jangka panjang yang dapat mentoleransi fluktuasi nilai dalam jangka pendek.

“Bisa jadi ada switching (ke SBN Ritel) meskipun segmen investor pada pasar saham dan SBN Ritel agak berbeda,” kata dia.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menyampaikan salah satu faktor utama tingginya minat investor adalah imbal hasil yang cukup atraktif.

Jenis SBR, katanya menggunakan prinsip floating with floor. Artinya, jumlah minimal imbal hasil yang didapatkan tidak mengikuti penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Selain itu, investasi jenis ini terbilang lebih aman bila dibandingkan dengan instrumen lain. Pasalnya, penerbitan SBN Ritel dijamin oleh pemerintah melalui Undang-Undang.

"Risiko gagal bayar (default) juga lebih rendah. Selama penerbitan ini kami juga belum pernah mengalami gagal bayar," katanya.

BISNIS






Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

17 jam lalu

Utang RI Mendekati Rp 7.500 Triliun, Sri Mulyani: Masih Aman, Asalkan...

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai utang Indonesia masih tergolong aman.


Wamenkeu Tak Ingin Pandemi Berlanjut ke Krisis Keuangan

2 hari lalu

Wamenkeu Tak Ingin Pandemi Berlanjut ke Krisis Keuangan

Suahasil melanjutkan, dari pandemi Covid-19, negara belajar bahwa kondisi sosial hingga ekonomi tidak terlepas dari faktor kesehatan.


Utang Pemerintah per Oktober 2022 Dekati Rp 7.500 Triliun, Ini Rinciannya

4 hari lalu

Utang Pemerintah per Oktober 2022 Dekati Rp 7.500 Triliun, Ini Rinciannya

Kementerian Keuangan menyebutkan utang pemerintah per Oktober 2022 mencapai Rp 7.496,7 atau mendekati Rp 7.500 triliun.


Penjualan Mobil Daihatsu di Jateng Melonjak, Gran Max Pick-Up Terlaris

4 hari lalu

Penjualan Mobil Daihatsu di Jateng Melonjak, Gran Max Pick-Up Terlaris

Secara nasional, Daihatsu mencatatkan penjualan mobil ritel (dari dealer ke pelanggan) pada Januari-Oktober 2022 sebanyak 157.327 unit.


Bank Indonesia: Selama Sepekan Modal Asing Masuk Rp 11,7 T, Mayoritas ke SBN

6 hari lalu

Bank Indonesia: Selama Sepekan Modal Asing Masuk Rp 11,7 T, Mayoritas ke SBN

Bank Indonesia (BI) mencatat terdapat aliran modal asing masuk bersih senilai Rp11,71 triliun.


Ini Perbedaan Modal Asing yang Keluar dari RI dan Negara Maju di 2022

7 hari lalu

Ini Perbedaan Modal Asing yang Keluar dari RI dan Negara Maju di 2022

Sri Mulyani menyebutkan terdapat modal asing keluar bersih alias net outflow sebesar Rp89,57 triliun.


11 Tahun OJK Gantikan Bapepam-LK, Konglomerasi Sistem Keuangan Jadi Alasan

8 hari lalu

11 Tahun OJK Gantikan Bapepam-LK, Konglomerasi Sistem Keuangan Jadi Alasan

Otoritas Jasa Keuangan atau OJK telah 11 tahun. Dibentuk menggantikan Bapepam-LK, saat terjadinya konglomerasi sistem keuangan pada 2009.


Pengusaha Ungkap Penyebab Ukuran Produk Makanan dan Minuman Mengecil

17 hari lalu

Pengusaha Ungkap Penyebab Ukuran Produk Makanan dan Minuman Mengecil

Pengusaha menyebut tren produk makanan dan minuman (mamin) dengan kemasan serta ukuran diperkecil.


The Fed Naikkan Suku Bunga Lagi, Rupiah Bakal Makin Tertekan

28 hari lalu

The Fed Naikkan Suku Bunga Lagi, Rupiah Bakal Makin Tertekan

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan semakin tertekan.


Belanja Negara Rp 1.200 T Belum Dipakai, Ekonom: Siklus Penyerapan Buruk, Ditumpuk Akhir Tahun

33 hari lalu

Belanja Negara Rp 1.200 T Belum Dipakai, Ekonom: Siklus Penyerapan Buruk, Ditumpuk Akhir Tahun

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengungkap dua alasan mengapa dana belanja negara banyak yang belum terserap.