Wamenkeu: Virus Corona Pengaruhi Ekspektasi Ekonomi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara memberikan sambutan dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu, 6 November 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan perkembangan penyebaran virus Corona dapat mempengaruhi ekspektasi ekonomi. Kasus tersebut juga mendorong turun perkiraan-perkiraan ekonomi.

    "Kalau ekspektasi menurun, khawatirnya membawa penurunan pertumbuhannya, kalau sekarang Virus Corona ini mempengaruhi gerakan ekonomi, ekonomi bisa turun beneran," ujar Suahasil di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 28 Januari 2020.

    Saat ini, tanpa Virus Corona pun pertumbuhan ekonomi Cina melambat ke kisaran 6,1 persen. Ia belum bisa menduga apakah setelah ada virus yang menyerang pernafasan itu pertumbuhan ekonomi di sana terdampak atau tidak.

    "Nanti kami lihat, ternyata di beberapa belahan dunia lain kan mulai kelihatan, kalau ini menyebar lebih cepat, pertumbuhan ekonomi bisa lebih rendah," katanya.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai sejumlah kondisi yang terjadi pada awal 2020. Salah satu yang ia antisipasi adalah terkait perkembangan penyebaran Virus Corona yang mulanya dari Wuhan, Cina.

    "Pada bulan Januari perkembangan kondisi eksternal sungguh sangat tidak membuat kita happy, terutama dengan perkembangan virus Corona dan kondisi geopolitik atau kondisi politik di Amerika Serikat, ini harus tetap kita antisipasi terhadap spill overnya terhadap berbagai ekonomi global," ujar dia dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen.

    Ia mengatakan perkembangan kondisi global, salah satunya soal virus Corona, itu mesti dipersiapkan oleh semua negara dengan menyiapkan instrumen-instrumen kebijakan. Menurut Sri Mulyani, pelbagai kebijakan perlu disiapkan mengingat kondisi lingkungan saat ini tidak dapat diprediksi dan gejolaknya sangat tinggi. "Kalau risiko terjadi, confidence terhadap ekonomi pun melemah sehingga memengaruhi investasi yang menjadi sumber pertumbuhan."

    Dalam rapat yang sama, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina turun di bawah 6 persen dengan merebaknya Virus Corona di Negeri Tirai Bambu tersebut. Munculnya virus tersebut diperkirakan memperburuk pertumbuhan ekonomi yang saat ini sudah menurun.

    "Corona virus ini akan mempengaruhi semua elemen di Cina, kalau lihat SARS dulu, ini akan terkadi dalam satu kuartal dan akan memengaruhi kuartal satu dan dua di Cina," ujar Sri Mulyani.

    Virus yang menyebabkan gangguan pernafasan itu, menurutnya, membuat Cina kehilangan momentum untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. "Dengan adanya Virus Corona dan kebijakan lockdown, maka seluruh potensi pertumbuhan  Cina dari faktor domestik tidak terealisasi, kehilangan momentum sama sekali."

    Biasanya, kata Sri Mulyani, Tahun Baru Cina menjadi momentum Cina untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui faktor domestik, yakni konsumsi. Apalagi pada tahun ini Cina juga memperpanjang libur hingga awal Februari. "Ini menggambarkan bahwa risiko sangat tidak terprediksi dan volatile."

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.