Sri Mulyani Waspadai Imbas Virus Corona Terhadap Perekonomian RI

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    Menkeu Sri Mulyani memberikan keterangan pers terkait laporan APBN 2019 di Jakarta, Selasa 7 Januari 2020. Menkeu menyatakan realisasi APBN 2019 masih terarah dan terkendali meskipun terjadi defisit sebesar Rp353 triliun atau sebesar 2,20 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai sejumlah kondisi yang terjadi pada awal 2020. Salah satu yang ia antisipasi adalah terkait perkembangan penyebaran Virus Corona yang mulanya dari Wuhan, Cina.

     

    "Pada Bulan Januari perkembangan kondisi eksternal sungguh sangat tidak membuat kita happy, terutama dengan perkembangan virus corona dan kondisi geopolitik atau kondisi politik di Amerika Serikat, ini harus tetap kita antisipasi terhadap spill overnya terhadap berbagai ekonomi global," ujar dia dalam rapat bersama Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 28 Januari 2020.

     

    Ia mengatakan perkembangan kondisi global, salah satunya soal Virus Corona, itu mesti dipersiapkan oleh semua negara dengan meyiapkan instrumen-instrumen kebijakan. Menurut Sri Mulyani, perlbagai kebijakan perlu disiapkan mengingat kondisi lingkungan saat ini tidak dapat diprediksi dan gejolaknya sangat tinggi. "Kalau risiko terjadi, confidence terhadap ekonomi pun melemah sehingga mempengaruhi investasi yang menjadi sumber pertumbuhan."

     

    Dalam rapat yang sama, Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina turun di bawah 6 persen dengan merebaknya Virus Corona di Negeri Tirai Bambu tersebut. Munculnya virus tersebut diperkirakan memperburuk pertumbuhan ekonomi yang saat ini sudah menurun.

     

    "Corona virus ini akan mempengaruhi semua elemen di Cina, kalau lihat SARS dulu, ini akan terjadi dalam satu kuartal dan akan mempengaruhi kuartal satu dan dua di Cina," ujar Sri Mulyani.

     

    Ia berujar virus yang menyebabkan gangguan pernafasan itu, menurutnya, membuat Cina kehilangan momentum untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. "Dengan adanya Virus Corona dan kebijakan lockdown, maka seluruh potensi pertumbuhan  Cina dari faktor domestik tidak terealisasi, kehilangan momentum sama sekali."

     

    Biasanya, kata dia, Tahun Baru Cina menjadi momentum Cina untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui faktor domestik, yakni konsumsi. Apalagi pada tahun ini Cina juga memperpanjang libur hingga awal Februari. "Ini menggambarkan bahwa risiko sangat tidak terprediksi dan volatile."

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.