Beda dengan Jiwasraya, Bos Taspen: Investasi di Instrumen Aman

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konferensi Pers paparan kinerja 2019 bersama manajemen PT Taspen (Persero), diantaranya ada Direktur Utama Taspen A.N.S Kosasih, dan Komisaris Utama Franky Sibarani di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDi

    Konferensi Pers paparan kinerja 2019 bersama manajemen PT Taspen (Persero), diantaranya ada Direktur Utama Taspen A.N.S Kosasih, dan Komisaris Utama Franky Sibarani di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. TEMPO/EKO WAHYUDi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Taspen (Persero) Antonius N. Steve Kosasih memastikan sebagian besar portofolio investasi perseroannya ditempatkan pada instrumen yang sangat aman. Hal ini disampaikan menanggapi kasus yang tengah membelit asuransi PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

    "Mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen  yang memberikan hasil tetap (fixed income), yaitu surat utang dan deposito sebesar 86,2 persen dari total portofolio," kata Kosasih saat paparan kinerja Taspen 2019 di Menara Taspen, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020.

    Sepanjang 2019, kata Kosasih, perseroan berhasil mendapatkan imbal hasil dari investasi sebesar Rp 9,11 triliun. Angka ini setara dengan pertumbuhan 19,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

    Lebih jauh Kosasih menjelaskan, bahwa porsi investasi perseroannya pada surat utang atau obligasi yakni sebesar 67,5 persen. Lalu sebanyak 37 persen investasi ditempatkan di Surat Utang Negara (SUN), kemudian 11,2 persen di Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), 16,1 persen dialihkan ke obligasi korporasi, 1,9 persen medium term notes (MTN) milik BUMN, 1 persen di KIK-EBA BUMN, dan terakhir 0,2 persen berada di Sukuk Korporasi.

    “Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” ucap Kosasih.

    Pada instrumen reksa dana, Kosasih menjelaskan bahwa Taspen berinvestasi melalui maksimum 15 Manajer Investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) antara Rp 4 triliun hingga Rp 50 triliun. Adapun 90 persen  di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar dan hampir 50 persen penempatan reksa dana pada MI BUMN.

    Kemudian untuk investasi saham, Kosasih mengatakan, telah menerapkan aturan yang ketat dalam memasukkan investasi dalam portofolionya, sehingga pihaknya saat ini memilih emiten yang sebagian besar terdaftar pada Indeks LQ45 dan didominasi oleh saham BUMN yang dikategorikan blue chip dengan kapitalisasi pasar minimal Rp 2 triliun.

    "Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuiditas, dan valuasi perusahaan yang wajar dan seksama, serta memperhitungkan faktor-faktor teknikal,” ujar Kosasih. 

    Adapun penempatan saham Taspen pada 2019 terbanyak berada di PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan porsi investasi sebesar 24,01 persen, disusul di PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar 10,44 persen, dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) sebesar 8,81 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.