SBY: 2006 Saya Tak Dilapori Krisis Keuangan Serius di Jiwasraya

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tampak menahan tangis saat mendengar lagu Candle in The Wind dinyanyikan oleh Joy Tobing dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-70, HUT Demokrat ke-18 tahun, dan 100 hari meninggalnya Ani Yudhoyono di Pendopo Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin, 9 September 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono tampak menahan tangis saat mendengar lagu Candle in The Wind dinyanyikan oleh Joy Tobing dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-70, HUT Demokrat ke-18 tahun, dan 100 hari meninggalnya Ani Yudhoyono di Pendopo Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin, 9 September 2019. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta-Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mengatakan pada 2006 tidak pernah dilapori bahwa terjadi krisis keuangan yang serius di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Karena itu dia tak merasa terusik ketika Presiden Joko Widodo mengeluarkan pernyataan bahwa permasalahan Jiwasraya sudah terjadi sejak 10 tahun lalu.

    "Tesis saya, untung rugi dalam dunia bisnis bisa saja terjadi. Kalau mengetahui kondisi keuangannya tak sehat, korporat tentu segera melakukan langkah-langkah perbaikan," kata SBY dalam keterangan tertulis, Senin, 27 Januari 2020.

    Bahkan ketika beberapa saat kemudian Kementerian BUMN secara eksplisit mengatakan bahwa masalah Jiwasraya bermula di tahun 2006, SBY mengatakan juga tak merasa terganggu.

    Ketika mendengar ada kasus keuangan yang menimpa Jiwasraya, SBY mengaku memilih tak berkomentar apa pun. Karena, menurut dia, bisa saja sebuah korporat, termasuk Jiwasraya, mengalami masalah demikian. Pasang surut keadaan keuangan perusahaan, sehat-tidak sehat, kata dia, boleh dikatakan lumrah.

    "Namun, ketika dalam perkembangannya saya ketahui angka kerugiannya mencapai 13 triliun rupiah lebih, saya mulai tertarik untuk mengikutinya. Ini cukup serius," ujar SBY.

    Dan ketika mulai dibangun opini makin kencang bahwa seolah tidak ada kesalahan pada masa pemerintahan sekarang, dan yang salah adalah pemerintahan sebelumnya, SBY mulai bertanya apa yang terjadi. Dia mempertanyakkan kenapa isunya dibelokkan.

    SBY juga mempertanyakan kenapa dengan cepat dan mudah menyalahkan pemerintahannya. Padahal, SBY mengklaim tahu bahwa krisis besar, atau jebolnya keuangan Jiwasraya ini terjadi tiga tahun terakhir.

    "Karenanya, dihadapan staf dan beberapa tamu saya di rumah yang merasa tidak terima jika lagi-lagi saya yang disalahkan, saya sampaikan komentar ringan saya. Intinya, kalau memang tak satupun di negeri ini yang merasa bersalah, dan tak ada pula yang mau bertanggung jawab, ya salahkan saja masa lampau," katanya.

    HENDARTYO HANGGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.