Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2019 Masih 5,06 Persen

Reporter:
Editor:

Rahma Tri

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana aktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. Sri Mulyani menilai, pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi secara global akan lebih baik dari tahun ini. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Suasana aktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis 14 November 2019. Sri Mulyani menilai, pada tahun 2020, pertumbuhan ekonomi secara global akan lebih baik dari tahun ini. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Ekonom  Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan redanya perang dagang Amerika Serikat dan Cina akan mempengaruhi kondisi ekonomi Tanah Air. Sehingga, ia memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan bertahan di atas 5 persen untuk akhir tahun 2019.

    "(Data) Pertumbuhan ekonomi 2019 bulan depan keluar. Menurut kami Indonesia masih bisa tumbuh di atas 5 persen, lah. Kalau forecast kami itu di 5,06 persen," kata Andry di Plaza Mandiri, Senin, 27 Januari 2020.

    Selain karena perang dagang, Andry mengatakan, perkiraan itu dipengaruhi juga dengan tingkat konsumsi masyarakat yang masih baik di kuartal IV 2019 ketimbang kuartal III 2019. Tingginya konsumsi ini karena adaya perayaan seperti Natal dan Tahun Baru turut menstimulus pengeluaran masyarakat.

    "Harga komoditas juga lebih naik. Jadi menurut kami pertumbuhan di kuartal IV saja antara 5 persen hingga 5,04 persen itu bisa tercapai. Mestinya enggak jauh-jauh sama forecast kita yang 5,06 persen," ungkap Andry.

    Namun, hal yang perlu diwaspadai Indonesia adalah perdagangan internasional alias ekspor dan impor. Hal ini karena  ada tantangan perlambatan ekonomi di negara maju seperti Cina, yang juga akan berdampak signifikan bagi negara emerging market.

    Sementara untuk tahun 2020, Andry memperkirakan pertumbuhan ekonomi dalam negeri  akan berada sekitar 5,1 persen dengan prediksi inflasi pada level 3,3 persen. 

    Sehingga dengan angka inflasi yang terus terjaga selama tahun 2019, Andry mengatakan, Bank Indonesia masih memungkinkan untuk kembali menurunkan  suku bunga acuan BI7DRRR 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. "Ini masih sangat positif buat Indonesia. Kalau ditambah satu saja, tingkat daya saing kita meningkat, direct investment-nya bisa masuk, pertumbuhan ekonomi 5,1 persen bisa diraih," tutur Andry optimistis.

    EKO WAHYUDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Banjir Jakarta, Bolak-Balik Terendam Akibat Cuaca Ekstrem

    Banjir Jakarta bolak-balik terjadi. Kali ini akibat cuaca ekstrem. BPBD sebut 10,74 persen RW di ibu Kota terdampak.