Harga Cabai Rawit Melonjak Hingga Rp 80 Ribuan per Kilogram

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang menata tumpukan cabai di Pasar Senen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019. Harga cabai rawit kembali meroket di pasar tradisional di Jakarta. Bila sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 40 ribu, sekarang sudah menembus Rp 70 ribu per kilogram. TEMPO/Tony Hartawan

    Pedagang menata tumpukan cabai di Pasar Senen, Jakarta, Senin, 8 Juli 2019. Harga cabai rawit kembali meroket di pasar tradisional di Jakarta. Bila sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 40 ribu, sekarang sudah menembus Rp 70 ribu per kilogram. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jember - Harga cabai rawit di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Jember, Jawa Timur, melonjak hingga Rp 80.000 per kilogram. "Stok cabai di pasar tradisional menipis dan pasokan dari petani juga berkurang, sehingga menyebabkan harga berbagai jenis cabai merangkak naik," kata salah seorang pedagang cabai, Hadi di Pasar Tanjung Jember, Ahad, 26 Januari 2020.

    Di Pasar Tanjung, harga cabai rawit mencapai Rp 76.000 ribu per kilogram dan cabai merah besar Rp 70.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai rawit di Pasar Kreyongan tembus Rp 80.000 per kilogram dan cabai merah besar Rp 65.000 per kilogram.

    Hadi mengatakan para pedagang tradisional di Jember terpaksa membeli cabai dari luar kota seperti Pulau Madura dan Kabupaten Situbondo karena stok cabai dari petani Jember tidak ada. "Namun jumlahnya tidak banyak karena stoknya juga dibagi ke beberapa daerah lain," tuturnya.

    Bila pasokan komoditas itu terus berkurang, harga cabai bakal terus naik. Pasalnya, banyak lahan pertanian cabai di Jember yang gagal panen. "Kami berharap mudah-mudahan kenaikannya tidak seperti tahun-tahun lalu yang menembus Rp 100.000 hingga Rp 125.000 per kilogram," katanya.

    Lonjakan harga jual cabai merah juga terjadi di Kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu yang mencapai Rp 50.000 per kilogram. Kenaikan harga komoditas ini dinilai cukup memberatkan warga karena produk pertanian lainnya seperti bawang merah dan bawang putih juga mengalami kenaikan.

    "Cukup terasa kenaikannya karena saat ini cabai merah harga jualnya di tingkat pedagang rata-rata Rp 50.000 per kilogram," kata Wati, warga Kecamatan Curup Tengah saat ditemui di kawasan Pasar Atas Curup. Adapun harga bawang merah dan bawang putih juga naik masing-masing menjadi Rp 38.000 dan Rp 39.000 per kilogram.

    Salah satu pedagang cabai merah di kawasan Pasar Atas Curup, Yanto, menduga kenaikan harga jual cabang merah itu karena pasokan barang dari petani berkurang sehingga memicu kenaikan harga. "Sejak musim hujan ini produksi cabai dari petaninya berkurang, ini juga ada tapi harganya sudah mahal," ucapnya.

    Kepala Pasar Induk Kramat Jati Agus Lamun sebelumnya menyebutkan kenaikan harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur dipicu kelangkaan pasokan dari daerah penghasil. "Untuk harga yang cukup tinggi hanya jenis rawit merah saja, itu karena memang harga perolehan dari daerah sudah tinggi dan kelangkaan akan cabe jenis rawit merah itu sendiri," ujarnya, Kamis pekan lalu.

    Pasokan komoditas cabai di Pasar Induk Kramat Jati sebagian besar datang dari beberapa daerah penghasil di Pulau Jawa. Cabai rawit merah di kalangan pedagang Pasar Induk Kramat Jati dijual seharga Rp 85.000 per kilogram atau naik dari harga normal Rp 15.000 sampai Rp 22.000 per kilogram.

    Kenaikan harga cabai rawit merah tidak hanya dikeluhkan pedagang, namun juga konsumen. "Omzet jualan turun setengahnya sejak awal pekan ini," kata Ombot, salah satu pedagang cabai di blok sayur mayur Pasar Kramat Jati.

    Adapun konsumen dari kalangan pedagang masakan Padang, Ricky Fachiroz, mengatakan harga cabai rawit merah yang relatif tinggi membuatnya beralih pada jenis cabai merah keriting. "Kebetulan harganya masih wajar. Mungkin cuma sedikit mengurangi rasa pedas di masakan saja," katanya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.