Inflasi Diprediksi Stabil Walau Iuran BPJS dan Cukai Rokok Naik

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas jual beli di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017. Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    Aktivitas jual beli di pasar tradisional Pasar Paseban, Jakarta, 21 Oktober 2017. Saat ini PD Pasar Jaya tengah fokus menyelesaikan revitalisasi 16 pasar tradisional hingga akhir tahun 2017. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah ekonom yakin inflasi awal tahun bakal terjaga meskipun ada kenaikan administered prices.

    Ekonom Bank Permata Josua Pardede, misalnya, mengatakan inflasi cenderung terjaga meskipun didorong oleh kenaikan inflasi diatur pemerintah seperti kenaikan tarif cukai rokok dan iuran BPJS Kesehatan sejak awal tahun ini. Kenaikan harga juga terbilang stabil meski sudah melewati masa panen raya kedua sekitar Oktober tahun lalu. 

    "Hal ini juga didorong oleh pengelolaan stok pangan yang didukung oleh koordinasi Kementan, Kemendag dan Bulog," kata Josua, Ahad, 26 Januari 2020.

    Stok pangan strategis seperti beras yang merupakan komoditas pangan pokok konsumsi domestik, menurut Josua, diperkirakan mencukupi hingga Maret 2020. Hal ini mengindikasikan harga pangan beras dan komoditas pangan strategis lainnya diperkirakan tetap stabil hingga jelang panen raya pada Maret atau April.

    Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Nasional dan Daerah juga perlu terus diperkuat dengan pemantauan ketersediaan pangan untuk tiga bulan kedepan yang dilakukan secara berkala. Selain itu, mengingat curah hujan cenderung meningkat dari sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini, monitoring stok pangan perlu dilakukan lebih intensif.

    Jika ada penurunan produksi pangan, menurut Josua, maka diperlukan langkah-langkah stabilisasi melelui operasi pasar oleh Bulog untuk meredam potensi kenaikan harga. Oleh karena itu ia pun yakin bahwa inflasi 2020 diperkirakan tetap stabil dan dalam target sasaran inflasi Bank Indonesia.

    Hal senada disampaikan Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet. Ia mengatakan pola hujan yang tidak merata di seluruh Indonesia membuat harapan pasokan pangan masih akan tercukupi.

    Sejumlah sentra panen tanaman strategis, menurut dia, juga belum tentu terkena dampak musim hujan. “Namun jika berbicara inflasi pada bulan-bulan berikutnya maka ada potensi inflasi juga dari dampak gagal panen karena musim hujan,” kata Yusuf.

    Selain musim hujan, Yusuf juga menyebut potensi kenaikan inflasi beberapa bulan mendatang bersumber dari kenaikan tarif cukai rokok. Hal ini mengingat proporsi pengeluaran rokok merupakan pengeluaran rata-rata terbesar kedua setelah makanan dan minuman jadi pada kelompok bahan pangan.

    Badan Pusat Statistik juga mengatakan, proporsi pengeluaran masyarakat untuk konsumsi rokok mencapai sekitar 12 persen. “Maka di Desember lalu, inflasi rokok tergabung dalam kelompok bersama makanan minuman jadi, tembakau, mencapai 0,29 persen (mtm). Bulan ini saya prediksi bisa berada pada kisaran 0,3 persen sampai 0,4 persen,” tuturnya.

    Bank Indonesia sebelumnya mencatat inflasi pekan keempat bulan Januari sebesar 0,42 persen (month to month) dan 2,82 persen (year on year). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan inflasi pekan keempat Januari ini lebih rendah dari rata-rata inflasi pada periode yang sama dalam 5 tahun terakhir yakni 0,64 persen. "Tekanan harga [inflasi] karena pengaruh musim hujan ke panen bawang, cabai, beras, dan sayuran," ujar Perry.

    Adapun deflasi disumbang oleh penurunan harga angkutan udara, bensin dan daging ayam. Dengan pergerakan inflasi tersebut, Perry menyebut Bank Indonesia meyakini target sasaran inflasi tahun ini, 2 persen - 4 persen, akan tercapai.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.